Sendiri di Singapura? Kenapa Tidak?

September 18, 2018

Singapura, 8 September 2018

Saya sadar, menjadi seorang manusia tidaklah mudah. Hidup yang kita mau sering kali melenceng dan membuat kita merasa jenuh dan masuk ke titik dimana kita benar-benar merasa tidak bisa kemana-mana.

Baru-baru ini saya sedang dalam kondisi yang tidak enak. Sakit yang tak kunjung sembuh, hati yang patah lagi dan lagi, serta pekerjaan yang rasanya hanya berputar disitu-situ saja. Saya mulai bosan dan ingin keluar dari semua itu.

Turun dari Halte di sekitar Lim Bo Seng Memorial, disini ada kayak taman dan Queen Elizabeth Walk buat liat sisi lain Marina Bay (di Maps no 1)

Pada tanggal 4 september 2018 akhirnya saya memutuskan untuk ke Singapura karena kebetulan saya libur di tanggal 8 – 11 September. Hari itu juga saya membeli tiket pulang-pergi serta issued hostel. Saya masih tidak tahu harus kemana saja di Singapura, tapi saya pikir 3 hari cukup untuk membuat itin di negara yang tak seluas jakarta itu.

Saya bukan kemayu atau "nggaya" memilih untuk ke Singapura saat itu. Saya benar-benar pada posisi yang di ujung tanduk dan ingin keluar dari borderline. Saya ingin bertemu dengan suasana baru, orang baru, bahasa baru, dan ke tempat dimana tidak ada orang yang mengenal saya dan bahasa yang saya gunakan. Saya pilih Singapura karena saya sudah mencoba membayangkan pergi ketempat-tempat di Indonesia namun saya tidak bernafsu kala itu. Saya ingin lari dari Indonesia. Itu saja.

Akhirnya tibalah saya di hari keberangkatan, perut saya sakit lagi karena obat sudah habis sejak hari rabu. Jumat sore - malam migrain saya pun kambuh, tapi saya benar-benar ingin pergi. Packing barang baru saya lakukan besok paginya, malam hari saat saya “nglilir” karena sudah capek maksa tidur (saat migrain satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya tidur, untuk mengurangi rasa sakit setelah minum obat) saya lempar baju-baju yang ingin saya bawa. Saya cuma packing seadanya, dan baju-baju itu masih lusuh karena belum saya setrika. Saya memutuskan untuk menyetrika baju di hari saya keluar dari hostel. Saya bawa setrika dari indonesia.

Saya merasa bisa bernafas lagi setelah sampai di Singapura. Udara yang baru & suasana yang baru membuat saya lebih hidup, meski kepala masih berat akibat migrain kemarin. Setelah check in dan istirahat sebentar saya langsung cek aplikasi gothere.sg dan mencari bus arah ke Esplanade. Saya sengaja memilih hostel yang lokasinya tepat didepan halte bus. Meskipun orang-orang lebih suka naik MRT, tapi bagi saya naik Bus lebih menyenangkan. Dengan naik bus, saya bisa melihat pemandangan Singapura dari balik jendela, sedangkan dengan MRT tidak.

Dari taman tadi jalan ke arah esplanade no 2, ada jalan tembus yang memperlihatkan Marina Bay Sands Hotel dari sisi yang anti mainstream.
Sampai di Esplanade saya langsung menuju ke Esplanade Outdoor Theater yang malam itu sedang ada pertunjukan band-band indie, buka saja jadwal pertunjukan EOT ini di esplanade.com saya sudah melihat schedulenya dari website itu saat perjalanan dari airport menuju ke hostel dan kebetulan ada yang tampil. Saya menonton band tersebut sampai pukul 21.30. Lalu berjalan menuju ke Helix Bridge dan Marina Bay Sands Mall untuk menikmati Spectra Light Show yang main pada jam 22.00. Mungkin sekitar jam 22.30 setelah Spectra Light Show berakhir, saya lanjutkan menuju ke dermaga di area ujung Marina Bay Sands Mall untuk tiduran dan menikmati Marina Bay city light beserta pantulan lampu-lampu gedung pencakar langit di sekitar Marina Bay Sands. Dermaga ini merupakan tempat favorite saya kala malam datang di Singapura. Saya merupakan pecinta city light, dan tempat ini selain memberikan tempat untuk tiduran gratis juga adem dan cozy banget. Ga akan bosan deh saya kalau disitu.

Karena sudah pukul 23.10 saya memutuskan untuk berjalan ke area The Promontory, sayang saya kemalaman lewat situ. Ternyata lagi ada kayak bazar gitu disana, dan pas banget jam saya lewat para pedagang sedang berkemas-kemas. The Promontory lumayan enak juga tempatnya buat menikmati Marina Bay tapi dengan lokasi yang lebih sepi. Karena ngejar bus/mrt (Saya ga nemu info operasional bis/mrt singapura) jadi saya langsung ke halte di seberang AXA Tower aja, lumayan nyasar-nyasar dikit dan kePDan nyebrang jalan lari-larian karena kagak ada lampu penyeberangannya (ngikutin native) tapi syukurlah nyampe di halte. Harusnya saya ke Lau Pa Sat untuk mengakhiri malam itu dengan makan tengah malam. Namun lagi-lagi karena tidak tahu operasional MRT & Busnya Singapura akhirnya saya batalin. Saya searching ga ketemu juga, akhirnya pas di Halte saya nanya ke native dan dia bilang untuk MRT Operasinal terakhirnya itu jam 23.30 sedangkan untuk Bus umumnya jam 00.00 - 00.30 tergantung dari rute busnya itu sendiri.

Setelah menunggu hampir 10 menit, akhirnya saya naik bus no 100 menuju ke Beach Road. Bus no 100 ini lumayan juga jadi bus andalan dari hostel menuju ke beberapa tempat. Oh ya, di Singapura aku cuma naik MRT 3x, lebihnya naik bus. Ya karena tadi itu, aku lebih suka naik bus karena bisa melihat suasana Singapura dibalik jendela bus yang penuh warna. Sedangkan MRT cuma bisa ngeliat kegelapan aja hahaha.

Sampai di Hostel ketidakberuntungan membuatku tidak bisa tidur malam itu (dan malam-malam setelahnya). Pas di kamar hostelku dari 8 penghuni kamar, ada 2 orang yang mengorok kenceng banget, dan itu membuatku tidak bisa tidur dan mata jadi kayak mata panda. Huff.
Garis Merah merupakan Rute saya malam itu. Garis Biru merupakan lokasi akhir yang batal saya kunjungi.

You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide