Menuju Keukenhof & Kota Haarlem di Belanda

June 15, 2020

Sunset di depan Stasiun Amsterdam Centrum.
Kala itu, Selasa pagi (08/05/2018) hari kedua kami di Belanda. Kami berjalan beriringan menuju halte bus untuk pergi ke Taman Kekeunhof dengan panduan google mapsku. Setapak dua tapak berjalan, kami mulai berbincang tentang orang di Amsterdam yang nampak tak memiliki beban seperti kebanyakan orang-orang di Jakarta kala Selasa pagi datang. Selasa pagi yang sangat sibuk di Jakarta tampak sangat santai dan damai di Amsterdam.

Bus datang, dari hotel menuju kesana kita harus menaiki 3 transportasi yakni bus-kereta-bus lagi, belum pulangnya kita harus menaiki bus-kereta-tram dengan rute berbeda dari saat kami berangkat. Rencana yang semula ingin bersepeda mengelilingi Lisse patah dengan kenyataan bunga-bunga tulip sudah tumbang di bulan Mei kala itu. Jalan satu-satunya kita harus membayar sekian euro untuk masuk ke Taman tersebut untuk menikmati Tulip serta beribu-ribu bunga didalam sana. Ya sudah tak apa. Tak afdol rasanya sudah jauh-jauh sampai sana tapi tidak melakukan apa-apa.

Banyak pasangan tua yang saling bergandengan tangan atau bahkan saling mendorong kursi roda sang pasangan disana, meskipun sang pasangan tenaganya juga tak sekuat itu. Saya amati salah satu pasangan ini, bahkan saya sempat mengikuti mereka karena melihat sang pasangan pria kaki dan tangannya gemetaran, saya cemas beliau tidak kuat nantinya jadi saya bisa menolong sedikit (akhirnya saya memilih untuk pergi dari sisi mereka). Tapi, meskipun kaki dan tangan gemetaranpun beliau tetap mendorong kursi roda sang istri. Saya cukup terharu melihatnya sekaligus iri, dalam hati saya sempet berdoa untuk memiliki pasangan yang sampai di-masa-tua-pun bisa tetap bergandengan tangan seperti mereka. Butuh waktu untuk sampai sana, tenang, saya menikmati proses ini.


Keukenhof is full of flowers, not only Tulips.
This old couple who loves each other that much, I envied them.
Kami lanjut menuju Haarlem setelahnya, disaat kami menunggu bus datang didalam halte, terlihat ada kecelakaan mobil di depan kami. Tak ada gerombolan orang-orang sekitar yang ikut andil untuk baku hantam dikecelakaan ini. Yang ada, tertabrak dan yang ditabrak keluar dari mobil lalu memfoto posisi mobil mereka, saling bertukar sedikit kata, meminggirkan mobil mereka lalu selesai. Hebat! Santai sekali hidup mereka.

Perjalanan dari Lisse menuju Haarlem cukup memakan waktu, sampai teman saya tertidur didalam bus. Saya yang tidak bisa tidur cukup terkagum dengan rindang dan tertatanya jalur yang saya lalui saat itu. Tidak ada klakson yang sahut sahutan disana-sini, tidak ada kemacetan yang memakan emosi, semua terlihat damai dan tentram.

Berjalan di Haarlem-pun terasa menyenangkan melihat orang-orang yang dengan santainya menutup rapat tokonya di hari itu, lalu menyebrang ke sisi kanal dan makan malam disana dengan keluarga yang telah menantinya. Belum juga keluarga lain yang amat menikmati harinya dengan mengarungi kanal-kanal diarea sana lengkap dengan makan malamnya.

Berjalan di area Grote Markt Haarlem, mencari tempat untuk makan malam bersama Murni (Baju Kuning).
Melihat para keluarga yang asyik menyusuri Kanal dengan perahu pribadi di area Haarlem.
Kami yang hanya melihatnya saja turut bahagia saat itu, hingga salah seorang pria tua memanggil kami dan tersenyum lebar dari balkon rumahnya melengkapi kebahagiaan itu. Ah, tidak sampai disitu saja. Kami yang berniat pulang ke hotel dari stasiun sana tiba-tiba mendapatkan upgrade level kereta dari yang awalnya kelas 2 menjadi kelas 1 gratis tis tis. Padahal kita hanya mengobrol sebentar dengan orang itu yang ternyata kebetulan merupakan petugas kereta entah apa disana, bahagia banget.

Awalnya saya berpikir orang tersebut bakal meminta nomor kami atau semacamnya. Tapi sampai kami keluar stasiun-pun orang tersebut malah tidak muncul lagi sama sekali. Kami sudah berniat juga ingin mengucapkan terimakasih ke dia, tapi ternyata hanya sampai dia mengantar kami ke kursi kelas 1 dan sudah begitu saja dia menghilang.

Inside Haarlem Station.
Sampai lagi Amsterdam langit sudah gelap, mungkin saat itu sudah pukul 22.30an, kami sudah terlalu lelah berjalan kaki seharian, pun sudah saatnya kami untuk menuju hotel dan istirahat. Didepan Amsterdam Centrum, kami cukup kaget dengan keramaian disana karena selama 2 hari disana kami selalu ke area yang lumayan sepi (kecuali Keukenhof). Sudah di Amsterdam 2 hari tapi baru hari kedua di malam hari itu juga kita baru benar-benar merasakan suasana Amsterdam yang sesungguhnya.

Sepanjang perjalanan tram sebenarnya saya mengajak teman untuk turun di lokasi yang terlihat ramai oleh orang-orang yang nongkrong didepan cafe-cafe. Tapi teman saya seperti tidak percaya saya mengajaknya kesana. "Mik lho yakin mau kesini? Gapapa beneran?" yang akhirnya karena kelamaan tanya-jawab kami jadi kelewatan halte terdekatnya. Mungkin karena itu area club-club gitu dan orang-orang sedang minum-minum jadi teman saya takut saya merasa ga nyaman. Padahal saya biasa saja karena mau menikmati suasana jalanan disana.

Sesampainya di halte dekat dengan hotel kami, kami mendapati hampir 8 orang termasuk kami berjalan beriringan ke arah hotel. Aneh tapi lucu juga baru kali itu saya pulang bersama orang lain dengan tujuan yang sama yakni hotel kami yang juga sama, dan nyatanya kami ternyata berada di satu tram yang sama. Jarang sekali saya mendapati kebetulan seperti ini.


You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide