Perjalanan Membuat Visa Schengen & Visa Jepang dari Purwakarta

November 02, 2020


Berbeda dengan orang-orang yang tinggal di DKI Jakarta dan sekitarnya, kami yang harus menempuh perjalanan jauh dari kota kami masing-masing selalu berusaha lebih untuk sampai di Kedubes atau Layanan Visa tujuan kami. Ada yang harus rela menempuh rute panjang dengan naik pesawat dari kotanya ditambah menginap dihotel, ada juga yang langsung menggunakan jasa pembuatan visa via agen, ada pula yang seperti saya: membuat visa secara mandiri dengan cara PP dari Purwakarta naik Kereta Lokal.

Dulu saat pembuatan Visa Korea Selatan masih bisa dilakukan di kedubes dan bisa dititipkan ke teman, maka saya dengan suka rela menitipkan dokumen untuk diurus oleh teman saya yang lokasi kerjanya dekat dengan kedubes tersebut. Apalagi teman saya juga akan pergi ke Korsel bersama saya, jadi ya tidak ada yang diberatkan. Namun untuk pembuatan visa lainnya seperti Visa Schengen dan Visa Jepang, semuanya tidak bisa dititipkan ataupun menggunakan layanan pembuatan visa dari agen-agen ternama. Kenapa? Karena kita tetap harus hadir kesana untuk rekam data seperti saat pembuatan e-ktp, pun slot pengajuannya via agen ini tidak bisa se-flexibel yang kita mau. Juga menggunakan agen tidak menjamin visa kita akan ter-approved, jadi ya no way buat saya, karena harganya lebih mahal juga sih.

Visa Schengen Via Perancis

Saya yang sekarang tinggal di Purwakarta ini tentu harus memutar otak untuk dapat mengajukan aplikasi visa tersebut dengan PP dihari yang sama, apalagi saya masih harus bekerja juga kan. Jadi sayapun harus rela ijin setengah hari dari kantor kemudian mulai mengotak-atik rute kereta dan mobil travel yang akan saya pakai untuk menuju ke Jakarta pada hari H-nya.

Saat pengajuan aplikasi visa via TLS (karena saya mengajukan dari Kedubes Perancis) dan saat itu belum tahu kalau ada mobil travel dari Purwakarta ke Jakarta, maka saya memilih moda Kereta Lokal Cikampek dengan naik dari Stasiun Cikampek dan turun di Stasiun Tambun dilanjutkan naik KRL sampai Stasiun Sudirman saja. Tidak hanya sampai disitu, sayapun lanjut naik Grab untuk sampai di TLS Contact. Saat itu tanggal 09 April 2018 dan saya berangkat dari St. Cikampek menggunakan kereta terpagi yakni pukul 04.35 dan sampai di St. Tambun pukul 05.51 seharga 6K. Yang membuat saya syok adalah itu pertama kalinya saya kegencet didalam KRL yang pada jam yang sama penuh oleh orang-orang yang berangkat kerja kearah Jakarta. Saya sampai heran kok bisa orang-orang tahan dengan kondisi seperti itu setiap harinya, hebat mereka.

Sampai St. Sudirman saya lalu turun dan baru kali itu merasakan kaki saya kaku karena saking tegangnya menopang badan saat tergencet didalam KRL. Saya lalu memesan Grab dan langsung diantar ke TLS yang ternyata saat itu belum buka karena saya kepagian datangnya. Memang saat itu saya memesan slot secara online pada pukul 08.30 jadi saya yang sudah sampai pukul 07.30 terpaksa menunggu hingga antrian saya terpanggil. Masuk di TLSpun kita tidak diperkenankan membawa HP serta barang lain selain dokumen dan dompet untuk membayar Pengajuan Visanya. Semua barang selain itu bisa dimasukkan ke locker yang telah mereka sediakan. Lalu saya masih harus mengantri untuk masuk dengan membuka pintunya via pen-scan-an dari barcode dokumen yang telah kita print dari TLS via online sebelumnya.

Setelah dipanggil dan menyerahkan aplikasi, kemudian masuklah saya ke area perekaman data layaknya pembuatan e-ktp itu. Pertama dengan merekam data sidik jari kita ke alat rekamnya, kemudian foto wajah. Setelah selesai, saya langsung dipersilahkan untuk membayar ke area kasir yang pada saat itu saya harus membayar sebesar +- IDR 1.5 juta lengkap dengan service pengiriman ke kantor saya di area Cikampek karena saya tidak mungkin mengambilnya sendiri lagi ke Jakarta, mahal ya.

Lalu saya langsung keluar dan mengambil barang saya di locker, lanjut naik Grab ke Stasiun Kemayoran untuk kembali ke kantor di Cikampek dan bekerja. Saya harus mengejar kereta  dengan arah Kemayoran-Cikampek pada keberangkatan pukul 09.55 agar bisa sampai secepatnya di Kantor. Namun naasnya, karena ini kereta lokal jadi kereta harus mau mengalah dengan kereta jarak jauh yang juga melewati rute rel yang sama. Kereta yang harusnya sampai di St. Cikampek pukul 12.10 harus telat dan pukul 12.40 baru sampai di stasun tersebut yang praktis membuat saya harus ngebut untuk sampai di Kantor pada pukul 13.00. Untungnya kantor saya tidak se-stict perusahaan lain, kalau iya bisa repot.

Teman saya yang mengajukan Visa yang sama via Kedutaan Belanda dalam waktu 4 hari langsung mendapatkan appoval begitu saja. Saya yang belum juga mendapat approval setelah 4 hari aplikasi saya serahkan cukup terintimidasi juga dan berakhir dengan misuh-misuh karena takut tidak mendapat approval yang berakhir harus menggagalkan liburan ini. Sampai seminggu kemudian lalu dua minggu kemudian Visa belum juga mendapatkan tanggapan dan kecemasan saya kian menjadi-jadi saat itu. Namun akhirnya pada tanggal 27 April 2018 (tepat 14 hari kerja setelah pengajuan), visa saya terima dengan sangat berduka cita karena saat passport saya buka Visa Schengen telah tertempel apik disana yang artinya pengajuan visa saya di approve. Hilang kecemasan saya dan liburan akhirnya bisa saya laksanakan sesua rencana. Ikuti cerita saya disini: Hei Paris! Hei Amsterdam! Hei Belgia!

Visa Jepang

Karena saya bukan pemilik Passport Elektronik maka saya tidak bisa mengajukan visa waiver, dan harus mengajukan Single Visa saja. Karena saya juga bekerja di perusahaan Jepang, maka syarat yang harus saya penuhi untuk mengajukan Visa ini lebih ringkas dan mudah dibanding teman saya yang bukan pekerja PMA Asing. Silahkan buka disini untuk lebih lengkapnya tentang visa tersebut.

Nah, sama dengan saat saya mengajukan Visa Schengen via Perancis tadi, saya juga menggunakan transportasi yang sama yakni Kereta Lokal Purwakarta. Bedanya, karena setiap tahun stasiun-stasiun yang dilalui si kereta ini berbeda, maka untuk mencapai VFS Global saya memilih naik dari stasiun Cibungur dan turun di Stasiun Kramat. Lumayan karena lebih dekat untuk mencapai Lotte Avenuenya, meskipun kena macet juga dari stasiun kramat ke Lottenya. Karena jadwal di VFS terpagi dipukul 09.00, maka saya berangkat dari Stasiun Cibungur kurang lebih pada pukul 06.00 dan sampai di Stasiun Kramat pukul 08.00. Lihat Jadwal Kereta Lokalnya disini, karena jadwal dan stasiun sering berubah-ubah.

Saya juga sebenarnya tidak mau mengulang kejadian kegencet saat turun di St. Tambun seperti sebelumnya, jadi saya memilih untuk lanjut naik kereta lokal saja dibanding transit dan naik KRL. Awalnya saya mau meggunakan Mobil Travel kearah Pancoran karena jadwal terpaginya yang jam 05.00. Tapi karena pengalaman naik mobil kearah jakarta hampir selalu kena macet, jadi saya urungkan niat tersebut dan tetap memilih naik kereta saja.

Sampai di Lotte Avenue, saya sempat kebingungan karena posisi VFS tersebut ada dilantai 4 mall yang pada saat itu belum buka. Sayapun hanya mengikuti oran-orang yang sepertinya bekerja di area Mall dan ikut masuk di pintu samping. Saya lalu diarahkan oleh satpam untuk kearah lift agar langsung sampai di lantai 4. Setelah saya tengok-tengok, ternyata lokasi VFS ini agak masuk kedalam dan hanya berlokasi dibelakang XXI dan dekat dengan Lotteria. Ya, paling gampangnya cari saja Lotteria/XXI deh kalau kesana, dan VFS tinggal selemparan batu dari sana.

Untuk detail pengajuannya silahkan dibaca sini ya dan karena petugas kasirnya sangat lama karena beberapa hal itu (baca link tersebut), maka saya harus lari keluar Mall untuk mengejar kereta saya. Jadwal kereta ke arah St. Cikampek dari St. Kramat terjadwalkan pada pukul 10.16 dari sana. Karena jarak yang jauh dari Lotte ke Stasiunnya, saya terus berdoa agar tidak ketinggalan kereta, kalau ketinggalan bisa repot saya karena tidak bisa masuk kerja. Tapi syukurnya bapak Grab mau dimintai untuk sedikit mengebut, dan syukurnya saya sampai di St Kramat tanpa ketinggalan sang Kereta. Saya juga cukup senang karena kereta tidak berhenti-berhenti seperti tahun sebelumnya jadi saya bisa sampai di St. Cikampek tepat waktu seperti yang terjadwal di papan. Baca cerita saya saat di Jepang.
________________

Sekarang paham kan, kenapa saya tidak mau memakai agen dan memilih mengurus semuanya sendiri? Ya agar tidak rugi saja, karena kita juga tetap harus kesana sendiri untuk rekam data sidik jari dan foto tapi harus membayar lebih mahal hanya karena memakai agen tersebut. Belum lagi syarat dana saat menggunakan agen ini yang harus ada minimal IDR 30juta lah atau IDR 50Juta lah, padahal tidak harus begitu juga. Tetap hitungan uang yang harus ada direkening itu cuma IDR 1Juta dikali berapa hari kita traveling disana. Kalau 5 hari ya setidaknya perlihatkan IDR 5juta + 2 Juta lah, jangan terlalu mepet juga biar lebih bisa dipercaya. Ingat juga, ga susah kok untuk mengajukan aplikasi ini secara mandiri tuh, yang penting data aplikasi lengkap sesuai syarat yang diminta udah deh, all is clear.

Dan untuk yang tinggal di Purwakarta atau Cikampek, rute trasportasi tadi mudah kan? Cukup naik kereta lokal terpagi saja sampai stasiun di jakarta sana, dilanjutkan dengan naik Grab udah deh beres. Kita bisa tetap masuk kerja dengan ijin setengah hari jadi semua win-win. Keperluan kita pribadi win, keperluan kita bekerja win juga.

Tulisan dibuat pada tanggal 08 September 2020.


You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide