Jepang: Takayama Kota yang Nyaman untuk Menikmati Masa Tua

October 26, 2020


27112019 TAKAYAMA GIFU 

Hari yang di nanti akhirnya tiba, lokasi yang ada di hamparan pegunungan Jepang ini membuat kami mempersiapkan diri dengan lebih heboh ketimbang saat ke lokasi-lokasi sebelumnya. Suhu udara yang tiap harinya kami pantau via Instagram Story serta lokasinya yang berada jauh dikedalaman Jepang tersebut cukup membuat kami merasa gelisah takut nantinya akan kedinginan karena salah memakai baju. Sampai beberapa hari sebelum hari ini datang kami selalu mencoba untuk mencari pakaian yang tepat entah di Kyoto maupun di Osaka meskipun berakhir zonk karena tak cukup waktu dan mall keburu tutup untuk membelinya.

Selesai packing kami langsung sarapan di communal room dengan makanan yang telah kami beli kemarin malam. Meskipun hostel memberikan sarapan gratis, namun kami tak begitu suka dengan sarapan yang disediakan berupa roti tersebut, dan memilih memanaskan makanan yang kami beli ke dalam microwave yang juga disediakan di hostel. Selesai sarapan, kami lalu check out dan menuju ke Osaka Station. Hari itu masih sama dengan hari-hari sebelumnya, langit yang cerah namun udara sangat dingin. Hari terakhir kami di Osaka kami lalui dengan sedikit berat hati karena meskipun sudah 3 hari di Osaka namun kami hanya mampir untuk tidur saja disana. Menginjak Osaka Stasiun kami berharap suatu saat bisa kembali lagi ke kota ini untuk melihat kota ini lebih dalam lagi.

Kami langsung mereservasi kursi shinkansen yang akan kami naiki ke arah Nagoya dan Takayama. Sayangnya petugas yang menangani reservasi kami saat itu sangat lelet, hingga waktu kami untuk menaiki Shinkansen yang telah kami rencanakan sangat mepet. Akhirnya kami harus mengganti rencana kami ke jam lainnya dengan jarak hampir 40 menit dari rencana kami semula. Kami lalu menaiki rapid dan turun di Shin Osaka untuk naik ke shinkasen menuju Nagoya. Namun ternyata waktu untuk mendapatkan kereta yang kami rencanakan di awal tadi masih bisa dikejar dan saya meminta ke petugas agar jadwal kami diubah ke jadwal terdekat itu. Tetapi peron yang kami kira adalah peron shinkansen yang seharusnya kami naiki ternyata hanyalah peron kereta rapid saja. Dan lokasi peron untuk shinkansen ini masih harus berjalan cukup jauh dari titik kami berdiri. 

Kami lalu berlarian ke arah peron shinkansen dan membuat kesalahan dengan tidak melihat nomor peron yang harusnya kami naiki. Kami bertanya ke pekerja food stall terdekat dengan kami saat itu dan berakhir dengan diarahkan ke arah petugas JR disana. Dan ternyata kereta kami tersebut sudah lewat 2 menit dari saat kami bertanya sang petugas. Kami yang kebingungan karena harus sampai di Nagoya sebelum jam tertentu cukup frustasi juga saat itu. Tapi petugas dengan entengnya mengatakan ke kami seperti ini:

"You can go to peron xx to take the closest schedule of the shinkansen to Nagoya without having to reserve your seat. You can just go straight to the line number xx to xx it's on the line for the unreserved seat."

"Oh my god! We forgot we have this option!" I said to my friend and laugh hard about our clumsiness.

Kami lalu berterimakasih ke petugas dan langsung masuk ke arah peron kami. Disana kami baru ingat kalau kami memang tidak perlu reservasi untuk bisa naik ke shinkansen. Kami bisa aja asal naik shinkansen mana saja yang boleh dinaiki dengan JRPass di gerbong unreserved. Lucunya lagi, shinkansen yang akhirnya kami naiki ini adalah shinkansen yang pertama kali kami reserved tadi. OMG!

Sampai di Nagoya Stasiun kami langsung menuju ke jalur hida train atau jalur kereta ke arah Takayama. Kami sempat syok saat tidak melihat adanya tanda-tanda eskalator dari tempat kami turun ke dalam stasiun tadi. Kami sangat malas untuk mengangkat koper kami ke atas peron karena bebannya yang sudah lebih berat ketimbang saat kami berangkat dari Jakarta beberapa hari lalu. Lalu tanpa sengaja saya menengok ke arah kanan dan melihat ada lift disana! Untungnya lagi lift tersebut mengarah ke jalur hida train kami, beruntung sekali.

Teman sedang asyik dengan pemandangan diluar jendela.
Shinkansen hida ini berbeda dari shinkansen lainnya, jendela yang dipasang di hida train ini sangat lebar karena diperuntukkan agar penumpang dapat melihat pemandangan pada jalur tersebut yang melewati sisi sungai dan bukit-bukit. Pemandangan yang kami lewati sangat indah sampai saya tidak mau melewatkan pemandangan yang kami lalui sedetikpun. Sang Kondektur juga memberi penumpang aba-aba melalui mikrofonnya saat memasuki sungai tertentu yang merupakan highlight pemandangan dari jalur kereta ini. Nama Hida sendiri ternyata diambil dari Hida River yang kami lalui di sepanjang perjalanan ke arah Takayama tersebut.

Saat di kereta kami masih mempertimbangkan tujuan kami esok hari yang masih juga belum terputuskan. Kami yang sudah mereservasi hotel di daerah Nagano akhirnya membatalkan reservasi kami tepat beberapa menit sebelum fasilitas free reschedule kami kandas. Rencana awal kami, 2 hari setelah perjalanan didalam shinkansen hida ini kami akan pergi ke Jigokudani Monkey Park, namun karena salju belum juga turun di daerah Nagano kami urung untuk kesana. Tanpa salju, Jigokudani Monkey Park terlihat biasa saja dan akan lebih indah dikunjungi saat salju mengumpul dikanan-kiri kolam air panas dimana kera-kera sedang berendam disana.

Pemandangan di jalur kereta Hida ini benar-benar sangat indah. Desa-desa kecil, kota-kota kecil, bukit-bukit, sungai semua terlihat jelas dari jendela kereta kami. Suasana pedesaan yang asri mampu menyegarkan mata kami yang beberapa hari sebelumnya hanya berkutat di hiruk-pikuk keramaain tokyo, osaka, dan kyoto. Lahan-lahan pertanian yang terlihat tandus karena musim panen telah berakhir nampak mengering. Bukit-bukit terlihat diantara kabut-kabut musim dingin yang tak juga mau berlalu. Sungai yang nampak jernih dan bersih sangat menggoda untuk direnangi.

Pemandangan dari dalam kereta shinkansen Hida.
Sampailah kami di Takayama dan langsung menuju ke hostel kami yang berada tepat di depan Stasiun Takayama. Sayangnya saat itu petugas hostel tidak ada dimanapun saat itu, padahal ada tulisan didepan hostelnya bahwa mereka siap membantu penyewa untuk mengangkatkan koper ke atas. Hostel ini berada di lantai 2 dan tidak tersedia lift untuk sampai di area resepsionisnya. Padahal kami memilih lokasi ini karena review mengatakan kalau petugas dengan senang hati akan membantu mengangkat koper penyewa, nyatanya mereka tidak ada saat kami butuhkan. Saat kami check out-pun mereka juga tidak ada dimana-dimana, padahal waktu itu masih pagi dan jadwal check-out sudah jelas dan bisa dipastikan penyewa ruangan akan membutuhkan bantuan mereka. Seharusnya mereka sudah hafal jadwal kereta dan bus disana dan harusnya stand by jika memang benar berniat untuk menolong penyewa untuk mengangkat koper mereka ke dalam/keluar hostel, namun kenyatanya mereka malah menghindar. Kalau memang tidak mau mengangkat koper, seharusnya kasih saja keterangan yang jelas kalau penyewa harus mengangkat kopernya masing-masing, jadi kami tidak mengharap dengan janji kosong seperti itu.

Malamnya teman saya juga sempat bertanya ke resepsionis mereka karena tidak bisa menemukan letak socket dikamarnya. Bukannya ditolong, teman saya malah dijawab dengan ketus oleh petugas tersebut seakan tidak peduli dengan masalah teman saya ini. Hotel tersebut bernama Relax Hostel Takayama, saya sih tidak menyarankan untuk kesini kalau punya bawaan yang banyak dan berat. Juga disini hanya tersedia toilet kering tanpa bidet, kalau tidak bisa memakai toilet kering mending cari hotel lain saja. Positifnya sih, hostel ini bersih dan kamarnya tidak bertingkat. Tiap orang punya dipan dan penutup kamarnya sendiri-sendiri, dan disediakan loker yang lumayan besar juga didepan tanpa biaya tambahan kalau harus menitipkan koper disana. Lokasinya juga strategis karena tepat berada didepan stasiun dan terminal.

Kembali ke saat saya sampai di hostel dan tidak menemukan petugas yang bersedia menolong tadi, akhirnya saya mengangkat koper saya ke atas lalu turun lagi untuk membantu mengangkat koper teman saya. Eh belum juga jadi mengangkat, tiba-tiba ada satu tamu pria yang membantu kami mengangkat koper teman tersebut, wah.. saya tidak beruntung. Kami lalu memasukan koper kami ke dalam loker dan lanjut berjalan bertiga ke area old town karena pria tersebut meminta untuk bergabung bersama kami. Pria ini merupakan turis asal Israel, seorang ayah beranak 2 yang baru saja bercerai dari istrinya dan sudah memiliki pacar lagi lol, kita berdua kalah telak dari pria ini. Karena sudah kelaparan, kami juga langsung beristirahat sebentar sambil mencari tempat untuk makan siang. Lokasi yang kami pilih dari penilaian review google maps ternyata siang itu masih tutup dan baru buka saat pukul 18.00 sore. Kami akhirnya asal masuk saja ke sebuah resto bernama Kajibashi dan berakhir kecewa karena masakan dan layanannya tidak begitu memuaskan. Menu yang kami pilih rasanya sangat biasa tapi dijual dengan harganya yang mahal, karyawannya juga tidak ramah. Itu pertama kalinya kami sangat kecewa dengan makanan dan pelayanan di resto saat berada di Jepang.


Kami lalu melanjutkan berjalan-jalan ke area Takayama, kami melewati Miyagawa Morning Market yang sudah pasti saat itu tutup karena sore sudah menjelang. Kamipun berjalan ke area Kasukabe Folk Museum dan mendapati orang-orang proyek sedang mengerjakan sesuatu di kolom selokannya yang sangat luas, lihat foto diatas. Kami lalu melanjutkan berjalan menuju ke arah Sakurayama Hachimangu Shrine dan menikmati udara disana yang masih segar karena lokasinya yang berada diantara pegunungan dan sepi dari kendaraan beroda. Kami melewati jalanan yang bersisian dengan sungai kecil yang mengalir ke arah sungai Miyagawa. Melihat air yang sangat jernih, daun dari pepohonan disekililingnya yang berwarna merah, lingkungan yang bersih dari sampah, dan jauh dari hiruk-pikuk sibuknya perkotaan membuat saya mampu menghirup udara segar sepuasnya. Saya juga merasa bahwa Takayama adalah gambaran kota yang tepat dan nyaman untuk saya nikmati di masa tua nantinya.

 Melihat kedua wanita tua ini membuat kami berdua memikirkan masa depan kami,
"Nanti kalau kita sudah tua bisa jalan berdua kayak sekarang juga ga ya dev?" seru saya kepada teman saya Devi.
Kami masih juga berjalan mengikuti arah google maps mengelilingi tempat-tempat yang sekiranya penuh dengan sejarah disana. Takayama merupakan old town yang memiliki bangunan tradisional jepang yang masih terjaga bentuknya sampai sekarang. Kami sampai di area Shorenji Temple dan terus berjalan ke arah Shiroyama Park dengan nyamannya karena suasananya yang sepi tidak seperti sebelumnya saat kami di Kyoto yang banjir oleh turis. Diperjalanan ke arah Shiroyama Park ini, kami bisa melihat pemandangan kota takayama dari sisi seberang stasiun yang belum kami kunjungi. Diperjalanan ke arah Shiroyama Park ini juga kami baru tahu kalau ternyata ada brosur khusus yang memperlihatkan rute perjalanan di area Takayama ini yang tentunya sudah terlambat bagi kami untuk mengikuti rute tersebut. Tak ayal, ada pedestrian dengan warna merah ataupun biru/hijau yang mengarahkan turis ke lokasi-lokasi wisata disana-sini. Kami terlalu terlambat untuk mengetahui itu dan tak punya waktu lagi untuk berkeliling karena sesampainya di Shiroyama Park langit sudah berangsur gelap.

 Pemandangan kota Takayama dari atas bukit.
Di perjalanan pulang ke arah hotel, kami dengan asal saja melewati gang kecil agar cepat sampai dibawah tanpa harus memutar. Kami lalu mampir ke tempat oleh-oleh karena kenalan dari Israel ini meminta untuk masuk kesana. Kami juga diminta untuk memilihkan beberapa barang untuk anaknya di Israel sana. Saya dan teman lalu masuk ke Takayama Municipal Goverment Memorial Hall, masuk sebentar disana dan melihat foto-foto tentang sejarah berdirinya kota Takayama disana. Kenalan Israel ini entah dimana saat itu, dan tanpa sengaja kami bertemu kembali di depan Memorial Hall dan berjalan bersama lagi. Belum puas dengan oleh-oleh yang dia beli sebelumnya, dia mengajak kami masuk ke toko oleh-oleh lain dan meminta kami lagi untuk memilihkan jepit rambut dan anting-anting untuk kedua anaknya. 

Hari sudah sangat gelap, suasana di Takayama sudah seperti kota mati karena hampir semua toko telah tutup. Kami lalu berjalan beriringan ke arah hotel dan sesampainya di hotel kami langsung check in dan mandi. Lucunya saat di kamar mandi ini saya bertemu teman saya yang sebelumnya sama-sama mengira kami berdua sudah tidur karena tirai kamar yang tertutup. Kami sempat diam dan lihat-lihatan selama 2 detik karena sama-sama tidak menyangka bakal ketemu di toilet ini, LOL. Kami tertawa dan merasa aneh dengan kebetulan ini dan akhirnya mengobrol berdua di toilet untuk merencakan lokasi kami makan malam setelahnya. 

Berjalan bersama sepanjang Takayama sampai gelap tiba.
Kami lalu bergegas untuk mencari makan malam di tempat yang pertama kali kami datangi tadi siang. Kami juga sekalian mencari syal untuk saya pakai menahan dingin, karena syal yang saya bawa hilang saat kami sedang di Starbuck di area Dotonbori. Tapi karena syal yang dijual disana lumayan mahal dan bentuknya yang biasa saja, saya akhirnya tidak jadi membeli dan lanjut berjalan kaki ke arah Hida Takayama Gyoza Sohonzan. Jalan kaki di udara yang dingin di Takayama membuat ingus saya sedikit keluar di tengah perjalanan, sangat dingin dengan anginnya yang kencang membuat udara yang dingin makin dingin menampar-nampar muka kami. Namun semua rasa dingin sedikit menghilang saat kami melihat sign Hida Takayama Gyoza Sohonza yang sudah buka. Karena tempatnya yang kecil dan hanya muat beberapa orang saja, kami masih harus mengantri untuk bisa masuk ke dalam restonya. Lucunya beberapa menit saat kami mengantri, antrian 4-6 orang didepan kami tiba-tiba pindah ke resto di sebelah kami, padahal tak selang berapa lama dari mereka pergi chef keluar dan memanggil kami untuk masuk kedalam restonya, kasian juga dengan 4-6 orang tadi.

Saat kami masuk ke restoran, kami diminta memesan menu via mesin yang berada tepat di depan pintu masuknya. Kami sempat bingung untuk memasukkan uang ke mesinnya karena semua berhuruf kanji. Setelah beberapa lama mencoba dan tidak bisa-bisa juga, akhirnya saya bertanya ke tamu terdekat dimana lokasi untuk memasukkan uangnya yang ternyata ada diatas. Karena harga makanan yang ditawarkan lumayan murah dari resto-resto yang sebelumnya kami masuki. Kami menjadi sedikit keranjingan sampai memilih 4 macam menu untuk makan malam kami berdua. Kami memesan 2 Miso Bamboe Noodles, Fried Gyoza, Hida Beef Gyoza, Orange Drink, dan Oolong Tea. Kami lalu duduk dan melihat sang chef yang dengan cekatannya menyiapkan semua makanan yang dipesan oleh orang-orang, hanya ada satu chef yang juga melayani semua keperluan pengunjung disana.

Saat sang chef menyajikan makanan ke tamu sebelah kami, kami mendengar salah satu gyozanya yang berisi pork. Kami syok dan bertanya ke chefnya apakah ada pork di salah satu menu kami dan ternyata kedua menu kami ada porknya yakni di Miso Bamboe Noodles dan Gyoza kami. Untungnya sang chef sangat baik dan bersedia mengganti pork di Miso Bamboe Noodles kami dengan Hida Beef, pun Fried Gyoza kami diganti dengan Soy Sauce Fried Chicken. Nah, saat menyiapkan Miso Bamboe Noodles kami, sang chef hampir saja lupa dan hampir memasukkan pork kedalam mangkok kami. Untungnya di persekian detik sebelum menaruh porknya, sang chef langsung sadar dan menggantinya dengan hida beef. Lucunya juga, hida beef yang dimasukkan ke menu noodles kami ini banyak sekali, 3x lebih banyak daripada daging pork yang seharusnya disajikan sebagai topping di menu noodles ini. Wow! Murah hati sekali.


Menu sudah disajikan semuanya di meja kami, tanpa menungu lama kami langsung menyicipi kuah Miso Bamboe Noodles-nya. Kami langsung terpukau dengan rasa kuahnya yang kental dan kaya rasa itu, rasanya enak banget! Kami juga langsung menyicipi gzoyanya yang masih hangat dan empuk saat digigit. Rasa Soy Sauce Fried Chickennya juga juwara, enak banget dan dagingnya juga empuk. Karena topping pada mie kami disajikan dengan Hida beef yang sangat banyak, kami sampai tidak bisa menghabiskan dagingnya. Kami juga terlalu kenyang karena mie yang disajikanpun sangat banyak, porsinya benar-benar memuaskan. 

Saya berjanji akan kembali kesini lagi jika nanti berkesempatan berkunjung ke Takayama lagi. Hawa dingin di Takayama dan kuah kental nan hangat yang disajikan di Miso Bamboe Noodles menjadi kombinasi yang sangat cocok. Meskipun kami tidak bisa menghabiskan menu yang disajikan, kami tetap puas telah masuk ke resto ini. Kami juga meminta sang chef untuk membungkus makanan yang tidak bisa kami habiskan itu untuk kami makan kembali esok pagi sebelum berangkat ke Shikarawago. Kami juga sempat meminta saos khusus untuk Miso Bamboe Noodles ini karena memang makanan ini disajikan dengan rasa yang sedikit pedas. Total kami makan disini hanya JPY 3.200 untuk 4 makanan dan 2 minuman yang kami pesan. Tempat makan ini sangat saya rekomendasikan ke semua orang yang berniat datang ke Takayama, makanan yang enak dan murah, chef yang ramah, kurang apa lagi coba? Ya meskipun harus menunggu pukul 18.00 sampai restonya buka, tapi worth the wait!

Kami sempat melihat ada kartun yang menceritakan berdirinya resto ini disalah satu sudut resto. Kalau tidak salah kartun tersebut menceritakan awal mula resto ini yang belum begitu terkenal sampai akhirnya ada turis asing yang makan disitu dan memberi pujian ke chefnya kalau Gyoza yang disajikan sangat enak. Setelah itu sang turis memberi review di google maps dan semakin kesini semakin banyak turis yang datang untuk makan disana. Lihat saja review pada google mapsnya yang mencapai nilai 4.7/5, sebagus itu review yang diberikan oleh orang-orang yang telah datang ke restorannya. Chefnya pun akhirnya membuka kursus untuk membuat Gyoza disaat pagi/siang hari, makanya resto baru buka di malam harinya. Menarik ya perjalanan hidup orang tu, semua punya jalan hidupnya masing-masing untuk mencapai titik tertentu.

Selesai makan kami lalu memilih jalan pulang yang berbeda dari jalan yang kami lalui sebelumnya. Kami juga sempat mencari-cari kalau-kalau ada toko yang menjual syal diperjalanan pulang ini meskipun berakhir nihil juga. Jalan yang kami lalui sangat sepi dan hampir semua toko apapun sudah tutup. Hanya bar-bar dan restoran-restoran saja yang masih buka, wow. Saya heran kenapa bisa kota kecil ini bisa sesepi itu saat malam hari, saya jadi dejavu dengan kampung halaman saya yang juga sepi saat malam hari datang. Kami saat itu sebenarnya berniat untuk ke arah uniqlo untuk membeli coat dan syal untuk dipakai esok hari, namun jarak kesana lumayan jauh dan kami teramat malas untuk berjalan kesana di malam yang amat dingin dan sepi itu. Kami lalu berbelok ke arah sevel dan membeli beberapa cemilan untuk kami makan besok paginya.


Sebenarnya kami masih belum memutuskan tujuan kami esok harinya, kami bimbang diantara pergi ke Shirakawago atau ke Shin Hotaka Ropeway. Kami selalu mengecek suasana di dua lokasi tersebut dan mendapati Shin Hotaka Ropeway sudah turun salju disana. Kami sebenarnya sangat ingin ke Shin Hotaka Ropeway, tapi karena lokasi untuk mencapainya harus menggunakan bus dan juga harus menginap di daerah sana barang satu hari maka kami urungkan. Besoknya kami keluar hotel dan berencana untuk jalan-jalan sebentar di area Takayama yang belum kami kunjungi dengan mampir sebentar ke terminal untuk melihat jadwal bus. Namun akhirnya, kami malah membeli tiket langsung ke Shikarawago disana dan dengan impulsifnya mengambil jadwal terdekat dan tidak jadi keliling Takayama lagi. 
Biaya :
Makan malam  : JPY 3.200
Hotel : IDR 481.933 berdua
Makan siang : JPY 1.190 (belum termasuk menu temen, karena saya lupa doi milih apa)
Lainnya lupa 


You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide