Jepang: Perjalanan terimpulsif di Kyoto

October 06, 2020


25/11 OSAKA - KYOTO

Setelah hari sebelumnya kami kena delay pesawat JAL dari tokyo ke osaka dan malamnya lanjut jalan-jalan di osaka, kami baru bisa tidur sekitar pukul 01.00 malam lebih. Teman saya yang selalu bangun duluan (saya teler) membangunkan saya sekitar pukul 07.00 pagi. Setelahnya kami bersiap dan breakfast di hotel serta langsung jalan kaki ke Osaka Stasiun untuk berangkat ke Kyoto. Kami tidak tau kalau untuk naik shinkansen ke Kyoto kami harus transit di Shin Osaka Stasiun, jadinya kami langsung bablas saja naik rapid ini ke Kyoto dengan jarak tempuh 30 menit. Sampai Kyoto Stasiun kami langsung naik kereta lanjutan untuk ke Fushimi Inari yang juga tercover JRPass, naik kedua kereta ini ternyata mirip-mirip dengan kereta KRL. Karena berangkat pagi juga kami harus berdesakan dengan orang-orang yang sedang berangkat ke kantor, berasa kami lagi naik krl tengerang-sudirman juga saat itu. Tapi untungnya kami bisa duduk saat menuju Kyotonya dan asyik juga bisa melihat pemandangan via rapid ini, karena rutenya yang berbeda dengan rute kereta shinkansen.

Sampai di Stasiun Inari via Nara Line, kami langsung bertemu dengan gerbang Fushimi Inari yang otomatis menarik perhatian para turis untuk berebut buat mengambil foto. Saya dan teman langsung menuju ke kuilnya saja dan melihat-lihat sebentar lalu naik ke Fushimi Inari yang jalurnya macet karena banyaknya turis yang masuk kesana. Karena kami kurang suka dengan keramaian, kami lari-larian untuk mencari lokasi dan spot foto agar terhindar dari foto bom turis lain. Tapi ya ga gampang juga ternyata, ada saja orang yang jalan melenggang saat kami sedang foto, padahal saat mereka berfoto ria kami rela untuk berhenti agar mereka tidak terganggu oleh kami. Kami lalu tetap berjalan sampai ke kuburan diatas, masuk ke hutannya sebentar menghindari turis lain, lalu naik lagi sampai persimpangan dan keluar.

Jalur Fushimi Inari yang macet.
Saya kira saat sampai persimpangan dan saya keluar itu sudah di puncaknya, ternyata belum. Dan saya baru taunya saat kami sudah sampai dibawah. Mungkin karena saya sudah malas berurusan dengan turis lain yang ramai itu, jadi saya berlari saja ke arah pintu keluar dan ternyata kami belum mencapai puncaknya. Padahal rencana kami juga ingin jalan disana sampai puncak, tapi ya sudahlah ya, sudah terlanjur. 

Kamipun lanjut berjalan ke pusat oleh-olehnya dan membeli postcard (yang tidak tau mau di-apain sekarang) dan jajan di food stall-nya. Kami rada menyesal saat membeli kobe beef seharga per satu tusuknya JPY2.000 disini, selain rasanya yang biasa saja dan dagingnya yang keras (penuh gajih dan susah ditelan), menunggu sampai dia matangpun memakan waktu hingga 15 menit dengan posisi berdiri. Seharusnya saya membeli daging regularnya saja yang harganya JPY500 saat itu, selain tidak membuang-buang uang, saya juga tidak perlu menunggu lama karena yang regular tersebut sudah ready dan dagingnya juga lebih besar. Kami juga membeli sari jeruk yang diminum dari buahnya langsung seharga JPY500 dan ternyata juga sarinya cuma sekali sedot habis, mending beli jus jeruk saja lebih puas sebenarnya. Saran saya sih, saat di Fushimi Inari tidak usah jajan di food-stall-nya, mending ke restoran sekalian saja karena sudah pasti jelas isi dan kualitasnya.

Tempat kami membeli Kobe Beef yang rasanya mengecewakan.
Kami lalu melanjutkan berjalan kaki ke area Tofukuji Temple, suasana di area jalan kaki ini sangat sepi dan autenthic sekali. Kami sampai bicara sambil berbisik-bisik karena takut mengganggu penduduk disekitarnya. Kamipun berfoto-ria disana dan berangan-angan untuk tinggal disana karena sunyinya membuat kami agak terpesona. Kami sempat melihat bapak tua yang menyapa kami dengan senyumnya yang riang, namun saat saya memintanya untuk saya foto si bapak tersebut menolak. Sampai Tofukuji Temple kami langsung masuk ke Tofukuji Tsutenkyo Bridge yang disana daun-daun musim gugurnya sedang merah-merahnya dan sangat cantik! Tapi sebelum masuk kami harus membayar JPY400 dan karena saat itu sedang peak season jadi ya di dalam sangat ramai oleh turis yang ingin menikmati daun-daun musim gugur berwarna orange tua itu.

Jalanan dari Fushimi Inari ke arah Tofukuji Temple yang sunyi senyap.
Keluar dari Tofukuji Tsutenkyo Bridge kami lanjutkan untuk mencari makan siang di area sekitar temple-nya. Tapi karena kami tidak menemukan tempat yang pas dan sepertinya disana juga rada mahal jadi kami putuskan untuk makan di sekitar Kyoto Stasiun saja. Diperjalanan ke Tofukuji Stasiun kami sempatkan mengganjal perut kami dengan membeli jajanan bernama Dango dengan harga setusuknya JPY 500. Bagi saya rasanya biasa saja malah terkesan aneh karena terlalu lembut, manis, dan lengket sampai menempel di gigi dan lidah, bentuknya seperti cilok dan kalau dibandingkan rasanya sudah pasti enakan cilok. Sepertinya saya tidak akan mau lagi jajan jajanan di area wisata disana, kurang cocok dengan lidah saya.



Sampai di Tofukuji Stasiun kami langsung naik kereta ke area Kyoto Stasiun. Saat di Kyoto Stasiun kami cukup bingung untuk memutuskan makan siang menuju sore dimana. Awalnya kami sempat ingin ke Mc Donald saja, tapi rasanya kok tidak afdol juga sudah jauh-jauh sampai Jepang kok ya makan siangnya Mc D lagi. Kamipun duduk diarea luar Kyoto Stasiun (Exit Hachijo East) dan bertemu seorang ibu yang cantik juga baik dan murah senyum yang akhirnya kami mintai dia untuk merekomendasikan tempat makan kepada kami. Awalnya si ibu merekomendasikan kami untuk makan Pastamore Kyōto Station Store dan lainnya, tapi karena saat itu kami sedang ingin makan nasi akhirnya kami menanyakan satu resto dan ditunjukkan arahnya ke lantai 3, lalu si ibu pergi.

Kami-pun mencari resto tersebut namun tidak ketemu, akhirnya kami balik ke tempat kami duduk tadi dan mencari resto lain disana saja, asal. Paling gampang memang dengan melihat food display-nya saja sih, lalu putusin mau makan yang mana. Selain cara ini lebih cepet, cara ini juga memudahkan kami untuk melihat makanan apa yang mereka sajikan. Apalagi di Jepang, hampir semua resto makanan menyajikan food display beserta harganya, dan makanan yang disajikannya-pun tidak berbeda dengan display-nya, jadi ya beneran sesuai ekspektasi.

Kami akhirnya tertarik diantara 2 pilihan resto, yakni di Kurama AstyKyoto Store dengan Pastamore Kyoto Store (yang tadi direkomenkan ke kami). Karena kami masih ingin memakan nasi, akhirnya kami memilih Kurama Asty saja. Pilihan kami benar-benar pilihan yang sangat tepat ternyata, karena makanan yang disajikan benar-benar seenak itu! Saya memilih menu seharga JPY1.450, begitu pula dengan teman saya, namun beda set. Tapi meski begitu saya berani menjamin kalau rasa makanan disana benar-benar enak dan rekomended banget buat siapapun yang akan ke Kyoto nanti, layak dicoba. Menu ini juga sangat authentic, karena ada 3 cara  ala jepang untuk menikmati makanan ini, meskipun saya tetap lebih suka menikmatinya dengan cara yang biasa. Selesai makan kami berniat untuk makan lagi di Pastamore nantinya karena display-nya yang terlihat menggoda. Tapi sampai kami meninggalkan Kyoto-pun kami belum bisa berkesempatan untuk mencicipinya. Sedih.



Selesai makan bukannya kami senang kami malah pusing karena bingung mau lanjut jalan kemana setelah itu. Kami sebenarnya sudah membuat itenerary namun karena saat itu sudah menjelang sore kami merasa rugi jika harus membeli tranportasi bus pass untuk sampai ke tempat yang ingin kami kunjungi. Saat itupun, kami juga tidak tau lokasi pembeliannya dimana dan lewat mana karena posisi kami ada di Hachijo East Exit. Lalu tiba-tiba kami mendapat ilham untuk mencoba shinkansen saja ke Nagoya! Impulsif kan! Karena kami belum mencoba shinkansen sama sekali meskipun sudah memegang JRPass selama 2 hari (iya 2 hari doang, padahal pulang ke Osaka lagi kami bisa make lho). Entah apa yang terjadi kepada kami saat itu, kamipun langsung naik shinkansen dan setelah duduk diam dan menimbang-nimbang mau kemana pas di Nagoya dan tidak menemukan hasil, akhirnya kami turun saja di Gifu-Hasima dan memutuskan pulang ke Osaka, LOL. What a day!


Diperjalanan ke arah Nagoya, kami melihat pemandangan desa-desa serta pabrik dan gunung-gunung lewat jendela shinkansen kami. Terlihat amat indah karena dibelakangnya ada semburat warna jingga yang mengelilingi desa tersebut serta matahari yang pelan-pelan tenggelam dibelakangnya. Lalu pelan-pelan juga sang gelap datang menutup semua keindahan itu dan membuat kami sedikit kecewa karena kami tidak lagi bisa melihat pemandangan di arah luar. Perasaan gembira yang tadinya kami rasakan tiba-tiba pergi begitu saja, lalu kami putuskan untuk pulang saja ke arah Osaka dan tak perlu sampai di Nagoya karena kami bisa turun dimana saja. Kamipun turun di stasiun pertama kami berhenti, stasiun Gifu-Hasima, dan memutar arah untuk kembali ke osaka.


Suasana stasiun yang sepi.
Saya masih ingat saat-saat kami turun di Gifu-Hasima waktu itu. Dingin angin yang menyergap saat kami turun dari kereta membuat kami berlari-larian kecil agar secepatnya sampai kedalam stasiunnya dan menghangatkan diri kami. Stasiun ini sangat sepi, dan mungkin hanya ada kami dan beberapa penumpang serta staf saja disana saat itu, berbeda dengan stasiun-stasiun lain yang sebelumnya kami jajaki dan selalu ramai. Kami lalu ke area reservasi tiket untuk reserve kursi kami ke arah osaka, setelahnya kami naik ke atas peron lagi karena sebentar lagi kereta shinkansen kami akan datang. Dan lagi, sampai di peron kami harus merasakan terpaan angin yang semilir masuk menembus kulit kami: dingin dan mengigil. Saat itu juga kami berdua tau rasanya menjadi orang yang tinggal di negara 4 musim. Bukan dinginnya yang membuat kami mengigil kedinginan, namun anginnya yang menusuk hingga ke tulang kami yang membuat kami kedinginan dan merasa tak berdaya. Kamipun mencari lokasi yang tidak tertembus angin dan berdiri disana sambil menunggu sang kereta datang. 

Keretapun datang dan kami langsung menuju ke Shin-Osaka. Sesampainya di Shin-Osaka kami lanjut menaiki rapid train ke arah Osaka Stasiun. Baru kali itu kami transit di Shin-Osaka, dan saat itu kami bisa melihat banyaknya orang yang sedang berdesak-desakan untuk bisa masuk ke kereta dan pulang kerumahnya masing-masing. Sampai Osaka Stasiun kami tertarik untuk masuk ke Uniqlo+GU disana. Kami berniat membeli perlengkapan untuk ke Takayama 2 hari berikutnya karena suhu disana sudah mencapai level 0 derajat celcius. Namun setelah menghabiskan waktu disana, kami akhirnya-pun tidak membeli apa-apa dan hanya menghabiskan waktu memilah-milih coat saja (tapi nanti beli kok pas di Shibuya). Kamipun pulang serta mampir ke Family Mart untuk membeli koyo kaki, lumayan 1 plastik isi 6 koyo seharga JPY795 (yang ternyata sangat mahal karena di toko lain kami bisa mendapat banyak dengan harga yang lebih murah). Sampai hotel kami langsung tidur dan menempelkan koyo-koyo tersebut ke kaki kami sampai esok harinya kami bangun dan berjalan lagi ke arah Arashiyama Kyoto.
Biaya :
Kobe Beef  : JPY 2.000
Sari jeruk : JPY 500
Dango : JPY 500
Kurama Resto : JPY 1.450
Koyok : JPY 795
Drop Inn : IDR 188.389


You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide