Jepang: Shikarawago Desa Tradisional yang Cantik

March 11, 2021


28112019 TAKAYAMA GIFU 

Kami masih tidak yakin akan kemana hari itu, terlebih hotel yang kami pesan di Nagano sudah kami batalkan saat diperjalanan menuju Takayama hari sebelumnya. Rencana awal kami yang akan mengunjungi Snow Monkey Forest (SMF) Nagano berubah dan kami masih tidak bisa memutuskan untuk kemana hari itu. Awalnya kami berencana untuk mengubah SMF menjadi ke arah Shin Rope Hotaka (SRH), namun lagi-lagi semua berubah karena transportasi ke Shin Rope Hotaka yang dilanjutkan ke Matsumoto sangat mahal dan memakan waktu yang tidak sebentar.

Kami yang sudah check out dari hotel setelah sarapan sisa makanan serta jajanan dari sevel tadi malam berniat keluar sebentar untuk jalan-jalan sambil menitipkan koper kami di hostel. Lalu kami iseng saja ke terminal bus yang lokasinya hanya selemparan batu dari hostel kami, melihat-lihat jadwal bus sekalian kaos kaki dan syal disana, dan berakhir membeli tiket ke Shikarawago dijadwal terdekatnya dan bergegas kembali ke hotel untuk mengambil koper kami. Rencana untuk jalan-jalan pagi batal dan digantikan ke Shikarawago pagi itu juga.

Setelah dengan impulsifnya membeli tiket bus secara dadakan di pagi hari nan dingin itu, saya dan teman sayapun akhirnya kembali ke hostel untuk mengambil koper kami dan segera ke terminal kembali untuk menaiki sang Bus. Lucunya, saat itu dompet saya ketinggalan di loket tiket terrminal dan untungnya penumpang lain tidak ada yang sadar dengan keberadaan dompet saya itu karena dompet benar-benar berada disisi meja tempat loket tiket. Kami lalu menunggu bus, sekalian membeli kaos kaki dan sarung tangan yang tadi kami lihat disana. Lumayan lebih murahlah dibanding toko di Takayama lainnya. Kota Takayama yang sangat cantik dan tenang itu kami tinggalkan dengan hati berdebar demi menjangkau Desa Tradisional yang masuk daftar UNESCO ini, Shikarawago.

SHIKARAWAGO

Karena antusias para traveler untuk mengunjungi desa ini dari Takayama sangat tinggi, kami yang saat itu mengambil jadwal keberangkatan antara pukul 8 atau 9 (saya lupa), disediakanlah 2 Bus yang berjejer untuk mengangkut kami di jadwal keberangkatan jam tersebut. Tidak ditentukan secara per tiket bus mana yang akan kami naiki, pilihan Bus hanya berdasar pada antrian saja. Kalau bus pertama penuh ya artinya ikut Bus kedua, dan kami kebagian naik di Bus keduanya.

Sama dengan cara kami sebelum-sebelumnya, saya dan teman duduk terpisah dengan niatan agar mendapat kenalan lain didalam Bus. Saya tidak ingat teman saya akhirnya duduk dengan siapa, tapi saya saat itu duduk bersama seorang gadis dari Saitama Jepang yang sedang menuju ke pemandian air panas di dekat Shikarawago. Cukup lucu sebenarnya kami saat itu, karena si gadis ini tidak bisa bahasa inggris namun ingin mengajak saya mengobrol, akhirnya kami berbicara menggunakan Google Translate haha. Dia bilang dia ingin sekali traveling ke negara lain serta mau ke Indonesia, lalu saya becandain aja agar dia belajar bahasa inggris dulu sedikit-sedikit biar bisa bebas melalang buana nantinya.

Perjalanan dari Takayama menuju Shikarawago ini pemandangannya sangat bagus. Gunung disana-sini, Terowongan, serta sungai yang tampak jernih dilihat dari atasnya. Keluar dari Takayama-pun pemandangan kota ini begitu indah dan tenang, saya sampai tidak bisa berkedip melihat indahnya kota tersebut dari jalan lingkar luarnya. Saya dan kenalan dari Saitama ini mengobrol cukup panjang hingga akhirnya kami tertidur saat memasuki terowongan yang sangat panjang, mungkin ada kali 10 km saking jauhnya. Hebat juga si sopir tidak mengantuk seperti saya yang kebosanan tidak bisa melihat pemandangan apapun selain gelapnya si terowongan haha.

Akhirnya setelah hampir satu jam perjalanan kami mulai memasuki aset UNESCO Shikarawago ini. Dari atas saya cukup bingung juga ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan desa ini. Sebelum masuk ke kawasan Shikarawago-nya, ternyata ada kota dengan bangunan masa kini disisi pintu masuknya. Wah, ternyata begitu, gumam saya saat itu. Kamipun turun di Terminal dan langsung mencari loker untuk menitipkan barang kami yang lumayan besar itu. Saya baca-baca, ada loker yang disediakan disisi belakang terminal. Namun semua loker saat itu tertutup, entah karena sudah penuh, entah karena memang sengaja tidak difungsikan. Wong nyatanya ada satu rumah dibelakang terminal yang menampung bawaan kita dengan harga lebih besar dari si loker. Hehehe.

Saya lupa juga berapa biaya yang kami keluarkan untuk membayar persewaan tempat untuk barang kami tersebut. Yang pasti, per barang akan dihargai per masing-masingnya juga, bahkan tas kecilpun. Kami saat itu menitipkan 2 koper besar dan 1 tas kecil, lumayan juga biayanya. Selesai menaruh koper kami langsung ke arah loket untuk memesan tiket bus ke arah Toyama dengan jam keberangkatan pukul 16.50. Kami mengira 5 jam tidak cukup di Shikarawago ini, yang lucunya kami sampai ganti 3x jam keberangkatan setelahnya karena sangat cukup sekali waktu segitu lol.

Pemandangan di perjalanan ke observatory.
Sawah dan rumah tradisional dikanan-kiri.
Sepi, dingin, hujan rintik-rintik.

Bosan oi, lari-lari yuk mumpung sepi.

Kami lalu berjalan ke arah Observation Deck untuk melihat keseluruhan Shikarawago dari atas. Kami berjalan kurang lebih 15 menit dengan menantang angin serta hujan rintik-rintik yang saat itu turun. Sampai diatas kami mendapati sepasang orang tua yang meminta saya untuk memotret mereka berdua. Kami lalu berjalan lagi sampai di Tenshukaku Observatory dan berfoto di sana. Nah saat di Observatory ini, ada pekerja mereka yang menanyakan negara kita lalu disambut dengan bahasa kita seperti "Oh Indonesia, selamat datang, kamu bisa berfoto disini gratis." sambil diarahkan ke lokasi untuk berfoto mereka plus kamera kita dibawa dan digunakan untuk memfoto kami lalu mereka akan memfoto kami dengan kamera dslr mereka sendiri.

Saat itu kami pikir mereka kok baik banget mau motoin kami di lokasi yang bagus ini dengan gratis, hingga akhirnya kami tahu kalau foto dari dslrnya tadi diprint oleh mereka dan dijual dengan harga yang fantastis, JPY 1.200. Hahaha. Ya semacam kalau kita lagi main di dufan gitulah, difoto lalu diperlihatkan hasil fotonya saat kita keluar lokasinya, kalau mau ya bayar, kalau ga mau ya dibuang. Ckckck.

Teman saya saat itu memutuskan untuk membeli foto tersebut sebagai kenang-kenangnya. Berbeda dengan saya yang itung-itungan dan merasa cukup dengan foto di Mirrorless saya. Kami terlihat pucat sekali didalam foto tersebut, kedinginan dan kurang tidur karena kecapekan berjalan kaki terus menerus haha. Sebenarnya, ada shuttle yang bisa membawa wisatawan dari satu titik ke area Observatory ini. Namun berjalan kakipun juga bisa dan tidak begitu jauh. Sesuaikan saja dengan kondisi badan, kami sih memilih berjalan kaki karena selain menghemat biaya juga tidak perlu menunggu kedatangan shuttle yang terjadwal tiap beberapa menitnya.

Nah, diperjalanan ke bawah lagi setelah puas dilokasi Observatory ini, saya dan teman tiba-tiba mengubah rencana untuk memperpendek waktu untuk berjalan-jalan di area ini. Kami lalu balik ke terminal dan meminta untuk di menjadwal ulang Bus kami ke pukul 15.30 lalu kami berjalan-jalan kembali. Kami lalu mampir ke toko kelontong untuk membeli makanan kecil semacam onigiri, namun tidak jadi membeli apa-apa karena tidak ada onigiri disana. Kami berdua saling lihat-lihatan saat melihat kaos kaki dan sarung tangan murah disana, sangat murah dibanding yang kami beli di terminal tadi pagi. Hahaha tragis.

Kami lalu berjalan ke arah jembatan tali yang penuh dengan wisatawan berfoto disana, oyak sana-sini tapi seru juga. Sementara saya didalam jembatan foto-foto pemandangan disana, si teman ternyata sedang sibuk diujung jalan membenarkan jilbabnya yang licin. Saya lalu ke arah teman ini dan kami lanjut jalan kaki mencari tempat makan, ya kami kelaparan saat itu. Terakhir makan kemarin malam eh, sama sisa-sisa makanan yg kami bungkus untuk mengganjal perut tadi pagi. Dingin membuat kami lebih sering lapar daripada saat kepanasan, ya ga gitu juga sih lol.

Kami langsung mengambil handphone dan melacak keberadaan restoran dengan bintang minimal 4 disana. Setelah dapet, kami langsung menuju restoran tersebut yang ternyata tutup haha. Karena sudah tidak tahan dengan rasa kelaparan itu, kami lalu mencari saja restoran yang tidak antri lama. Sekedar info, semua restoran penuh saat itu dan banyak orang-orang yang antri tempat didepannya. Kami lalu antri saja disalah satu restoran bernama Nomura yang antriannya tidak begitu mengular, dan tidak sampai 2 menit kami langsung mendapat kursi serta siap menyantap makanan disana. 

Sempat menyesal juga masuk restoran ini karena set yang disajikan ternyata sangat biasa dan porsinya kecil untuk makanan seharga JPY 1.050. Set yang kami pilih terdiri dari Soba dan Nasi, kami hanya membeli 1 set saja untuk dimakan berdua karena kami lihat ke sebelah kami makanannya terlalu mahal dengan isiannya yang sangat biasa dan tidak banyak. Niatnya sih kami bakal makan lagi di resto lain disana, tapi berakhir tidak menemukan restoran lain dan hanya berputar-putar alias jalan-jalan lagi saja.

Kami lanjut keliling dari satu gang ke gang lain lalu naik ke arah atasnya Shikarawago. Rintik hujan makin menjadi-jadi dan kami sudah mentok tidak tahu mau ngapain lagi. Ternyata membosankan juga jalan-jalan di Shikarawago saat itu, entah karena efek hujannya atau karena memang tidak ada aktifitas apa-apa selain foto-foto. Harusnya sih kami cari info dulu ada museum ga disana, tapi yaaaa begitu saja. Saat itu masih pukul 12.30, kami yang sudah merasa bosan akhirnya mengubah rencana lagi dan melihat jadwal bus ke arah Toyama terdekat yakni pukul 13.20. Kami lalu bergegas ke arah Terminal dan berharap bisa mengubah jam tiket kami dan bisa langsung naik bus ke Toyama. Ya, ternyata di Shikarawago hanya dalam waktu 2-3 jam itu cukup teman-teman, setidaknya buat kami yang kedinginan saat itu.

Diperjalanan ke arah Terminal, tiba-tiba teman saya nyeletuk begini:

"Dingin banget mi, pengen minum beer jadinya biar anget,"

Sayapun langsung sumringah dan menantang teman saya itu:

"Beneran mau? Kalau iya coba yuk beli 1 kaleng aja buat berdua, yang 3,5% aja." yang disambut hangat oleh teman.

Kami lalu berbagi tugas, saya ke arah toko kelontong dan teman ke arah terminal untuk menukarkan si tiket. Biar ga ketinggalan Bus ya harus gitu kan, kalau dua-duanya nyari minuman ya ga dapet tiketnya, apalagi sudah mepet begitu. Saya langsung ambil 1 kaleng beer rasa lemon dengan kadar alkohol 3,5%nya. Lalu lari tunggang langgang ke arah terminal yang untungnya disambut hangat oleh tiket dadakan yang kami ubah untuk ketiga kalinya haha. Kami lalu mengambil barang kami yang ditaruh dibelakang mengingat awalnya kami berencana pulang sore. Keliatan sih si petugas penitipannya sedikit kesal karena bawaan kami keluar sebelum jadwalnya.

TOYAMA

Masih menunggu Bus, saya lalu ke toilet sebentar, lalu naik ke Bus yang ternyata hanya berpenumpang 7 orang beserta sopirnya itu. Lega seperti itu membuat saya dan teman mengambil kursi sendiri-sendiri agar sama-sama mendapat jendela. Jendela itu seperti mata kan? Menampilkan pemandangan tanpa gangguan sekitarnya. Sepertinya arah ke Toyama tidak begitu terkenal dibanding arah yang ke Kanazawa, antrian ke Kanazawa mengular sementara Toyama sepi. Padahal yang ke Toyama ini tiketnya lebih murah, hanya sebesar @JPY1.730 pemandangan di perjalannya-pun bagus banget.

Kami akhirnya mencoba meminum beer dengan 3,5% alkohol tersebut, untuk pertama kalinya dalam 28 tahun kami hidup. Akhirnya kami nyicip beer! Pas dingin-dingin, di Jepang pulak! Rasanya sih enak ya, langsung menjalar ke tenggorokan kami kehangatan dari beer ini, tenggorokan dan dada terasa hangat. Setelah meminumnya satu teguk, gantian teman saya meminumnya juga, cuma 2x teguk saja dan dia dada-dada ke saya alias ga kuat, saya masih meminumnya sampai 6 tegukan, lalu beer kalengan tersebut tergelak begitu saja di tempat botol di jok kursi depan saya.

Kami lalu asyik menikmati pemandangan perjalanan dari Shikarawago ke arah Toyama ini. Kami sempat melewati sekelebat desa tradisional lain yang terlihat dari jalan tol. Gunung, dedaunan yang memerah, salju dipuncak gunung, serta sungai dibawah jembatan. Keluar dari area gunung kami mulai memasuki area jalan tol dengan pemandangan rumah-rumah dipinggiran serta sawah-sawah yang berjejer dikanan-kiri kami. Tak lupa saat melihat ke arah belakang bus, kami melihat pemandangan Alphinenya negara Jepang. Akan lebih bagus lagi jika kami mengambil jalur Shikarawago dari arah Toyama ini, karena Japanese Alphinenya kelihatan sangat jelas dan berjejer dengan indahnya didepan sana. Gunung membentang dari ujung ke ujung dengan siraman salju dipuncak-puncaknya. Sayang saja kemarin mendung, jadi pemandangan gunungnya hanya samar-samar.

Sampai Toyama kami memutuskan untuk mencari tempat makan lagi. Kami masih kelaparan karena soba yang tadi kami makan tidak cukup untuk memenuhi perut kami, ya gimana wong 1 set dimakan berdua, mana puas? Kami memilih untuk makan sushi di stasiun Toyama, katanya sih area Toyama terkenal akan sushinya yang fresh jadi bolehlah dicoba. Saat turun dari Bus, kami langsung berjalan ke arah Stasiunnya, Bus yang kami naiki menurunkan kami di halte depan Stasiun Toyama, tidak tepat didepannya tapi lumayan dekat. Diperjalanan ke arah stasiun ini, kami melihat tram yang lalu lalang tepat didepan stasiun. Sempat terkejut juga karena baru kali itu kami melihat tram saat di Jepang.

Kami masuk ke Sushitama dan membeli set sushi serta beberapa satuan sushi yang disajikan per piring. Kami tidak tahu kalau cara makan sushi di Jepang ini berbeda dengan di Indonesia. Pada sushinya sudah diletakkan wasabi diantara nasi dan ikan/toppingnya. Saat pertama kali mengunyah sushi ini, kami berdua langsung merasa ditampol orang sebelah kami sampai air mata kami keluar. Kami berdua bingung tapi tidak tahu kenapa bisa begitu, lalu kami mencoba memakannya lagi, dan rasanya masih sama saja, seperti ditampol orang.

Tiba-tiba saya berinisiatif untuk membuka bagian antara nasi dan topping pada sushi didepan kami setelah teman berkata kalau itu wasabi. Saya heran, kan kami berdua tidak mentotolkan sushi ke wasabi sama sekali, kok bisa ada wasabi? Tapi toh ternyata benar, wasabinya diletakkan dianatara nasi dan toppingnya teman-teman! Banyak! Tanpa sepengetahuan saya si orang awam dari negara Indonesia, lol. Pantesan rasanya sebegitunya, kami berdua lantas bergotong-royong mengeluarkan wasabi tersebut, tapi ya tetep saja tidak sebersih itu dan tetap ada sedikit sisa wasabinya yang menempel. Sisa sedikit wasabi saja bisa membuat kami berdua kelojotan apalagi yang full seperti tadi, ckckck. Lucunya, teman saya sampai menyerah dan tidak bisa melanjutkan makan sushi yang kami pesan tersebut. Dan akhirnya-pun, saya pelan-pelan harus bisa menghabiskan sushi tersebut sendirian. Total Sushi dan minuman yang kami pesan disini hanya IDR 209.501, saya bayar pakai Jenius.

Setelah kami keluara sari restoran dan menuju ke lantai atas alias sudah sampai di stasiun untuk menunggu si Shinkansen. Saya tiba-tiba ingat kalau Beer yang kami beli di Shikarawago tadi ketinggalan di restoran sushi! Teman saya kemudian balik ke restoran tersebut dan kembali ke atas dengan tangan kosong karena para staf di restoran tidak mengerti bahasa inggris dan malah njelasin apa ga jelas. Mungkin sudah dibersihkan juga selepas kami keluar dari sana, jadi ya sudahlah. Sayang sebenarnya, baru 8x tegukan sudah tiba-tiba dibuang gitu kan.

Japanese Alphine yang muram. 

Rumah disepanjang sisi tol.

Dipersimpangan jalan.

Sawah, Alphine, Rumah.

Menanti Shinkansen ke arah Tokyo.

Amazing Toyama, kalau cerah Alphinenya akan sebagus itu.
TOKYO

Sampai saat itu kami masih belum bisa memutuskan untuk melanjutkan tujuan kami, mau kemana, kesana apa kesini atau kesitu? Bingung! Kami benar-benar tidak punya tujuan saat itu, hotelpun tidak ada. Lalu, kami putuskan dengan impulsifnya menuju ke Tokyo saja, serta baru membooking hotel saat sudah didalam kereta Shinkansen. Kami putuskan juga untuk membooking hotel yang sama dengan hotel yang sudah kami booking untuk 3 hari berikutnya, Samurai Asakusa Hotel. Alasannya simple, agar kami tidak perlu menggeret-geret koper lagi, kami sudah lelah. Kami lalu turun di Stasiun Ueno dan membeli Tokyo Metro Pass untuk 72 jam atau 3 hari seharga @ JPY1.500.

Kami sempat dibuat pusing lagi di stasiun ini sama seperti saat kami di Osaka Stasiun beberapa hari lalu, Ueno Station itu gedenya luar biasa dan tiap kereta punya jalur yang berbeda. Kami mau keluarpun tidak tahu caranya bagaimana karena signnya cukup memusingkan. Kami lalu bertanya ke petugas disana, dan disuruh keluar lewat pintu keluar yang bukan seharusnya, kami pakai JRPass ya jadi punya pintu masuk-keluar yang berbeda dengan merk kereta lainnya. Karena sudah pusing kami asal ikuti saja petunjuknya, dan berujung kena jotos pintu otomatisnya huf.

Karena kami butuh membeli Tokyo Metro Pass tadi, saya dan teman lalu berbagi tugas lagi. Karena kami malas untuk mengotong koper kebawah. Kami bagi saja dengan cara ini: teman menunggu koper diatas dan saya ke bawah mencari ruang untuk membeli Metro Pass ini. Saya lalu turun ke lantai bawah hingga 3 lantai, awalnya sempat menyerah karena tidak ketemu-ketemu juga. Apalagi sampai bawah tadi saya teringat kalau pasport teman saya tidak terbawa. Tapi karena malas keatas, saya minta saja difotokan passportnya dan setelah itu saya berhasil menemukan ruang untuk membeli Tokyo Metro Pass ini, dan ternyata cukup dengan menunjukkan 1 passport saya saja tidak masalah meskipun membeli 2 Metro Pass-pun, wah perjuangan sekali.

Selesai mendapat Tokyo Metro Pass, saya lalu ke atas lagi untuk menjemput teman dan koper kami, kami kebawah lagi menuju ke subway, naik subwaynya lalu turun di Asakusa Stasiun. Kami beruntung sekali saat keluar di Asakusa ini, karena kami melihat ada lift yang langsung menuju ke arah hotel kami!! Ya memang masih jalan lumayan juga, tapi setidaknya kami tidak harus mengangkat koper dari subway ke jalan raya seperti saat kami turun dari Pintu Ueno ke bawah tanahnya, capek guys. Liftnya ini ternyata tepat berada didepan Kaminarimon Gate Sensoji, untuk menuju ke hotel, kami tinggal belok ke kanan sekali serta ke kiri sekali lagi, dan tibalah kami di Hotel, yeess! 

Sampai di hotel kami langsung check in dan menaruh barang kami di kamar, sempat juga tidur sebentar saking capeknya menempuh perjalanan sepanjang itu. Tapi kami langsung lanjut lagi setelahnya dengan menaiki subway ke arah Shibuya, niatnya sih mau makan Torikatsu Chicken di Shibuya ini, sayangnya sampai di stasiun Shibuya sudah mendekati jam restorean tutup. Ditambah lagi google maps tiba-tiba error disana, ya sudah, kami langsung pindah haluan ke Gyukatsu Motomura (lagi), dan masih pakai kesasar juga karena Google Maps yang terus lari-larian acak. Berasa dejavu dengan situasi kami saat di Korea 2017 silam.

Meski begitu, akhirnya kami sampai juga sih di GM dan masih harus mengantri dengan berdiri di tangga-tangganya sampai lebih dari 30 menit. Kami masih teramat penasaran dengan rasa GM yang katanya luar biasa ini, yang saat kami cicipi di hari pertama di Ueno ternyata biasa saja di mulut kami. Siapa tahu kan beda cabang beda rasa, dan memang benar ya, beda cabang beda rasa, pun beda penyajiannya karena yang di Shibuya ini tidak disajikan mayonaise yang disuguhkan di GM Ueno, padahal enak sekali lho mayonaisenya itu, fiuh. Meskipun berbeda tapi bagi kami masih biasa saja sih, tidak sebegitu wownya menurut kami.

Selesai makan, kami lanjutkan dengan berjalan sebentar di area Shibuya, karena sudah sangat lelah harus menempuh perjalanan Asakusa-Shibuya-Asakusa dengan jarak tempuh total 2 jam serta Bus dari Takayama-Shikarawago-Toyama, masih juga Shinkansen Toyama-Ueno, pun Subway Ueno-Asakusa, maka kami putuskan untuk pulang dan kembali ke hotel kami di Samurai Hostel Asakusa untuk tidur. Angin serta udara yang dingin masih setia menampar-nampar wajah kami selepasnya kami keluar dari stasiun kala itu. Kami tertawa saja berdua sambil menikmati hari-hari yang sebentar lagi akan usai di Jepang ini.

Biaya :
Bus Tak-Shi: JPY 2.400
Koper: lupa
Makan Shi: JPY 1.050
Buk Shi-To: JPY 1.730
Sushi: IDR 209.501
TMP 72 Jam: JPY 1.500
Samurai HA: IDR 432.884 (berdua)
Lainnya lupa


umiatikah

You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide