Jepang: Shikarawago Desa Tradisional yang Cantik

March 11, 2021


28112019 TAKAYAMA GIFU 

Kami masih tidak yakin akan kemana hari itu, terlebih hotel yang kami pesan di Nagano sudah kami batalkan saat diperjalanan menuju Takayama hari sebelumnya. Rencana awal kami yang akan mengunjungi Snow Monkey Forest (SMF) Nagano berubah dan kami masih tidak bisa memutuskan untuk kemana hari itu. Awalnya kami berencana untuk mengubah SMF menjadi ke arah Shin Rope Hotaka (SRH), namun lagi-lagi semua berubah karena transportasi ke Shin Rope Hotaka yang dilanjutkan ke Matsumoto sangat mahal dan memakan waktu yang tidak sebentar.

Kami yang sudah check out dari hotel setelah sarapan sisa makanan serta jajanan dari sevel tadi malam berniat keluar sebentar untuk jalan-jalan sambil menitipkan koper kami di hostel. Lalu kami iseng saja ke terminal bus yang lokasinya hanya selemparan batu dari hostel kami, melihat-lihat jadwal bus sekalian kaos kaki dan syal disana, dan berakhir membeli tiket ke Shikarawago dijadwal terdekatnya dan bergegas kembali ke hotel untuk mengambil koper kami. Rencana untuk jalan-jalan pagi batal dan digantikan ke Shikarawago pagi itu juga.

Setelah dengan impulsifnya membeli tiket bus secara dadakan di pagi hari nan dingin itu, saya dan teman sayapun akhirnya kembali ke hostel untuk mengambil koper kami dan segera ke terminal kembali untuk menaiki sang Bus. Lucunya, saat itu dompet saya ketinggalan di loket tiket terrminal dan untungnya penumpang lain tidak ada yang sadar dengan keberadaan dompet saya itu karena dompet benar-benar berada disisi meja tempat loket tiket. Kami lalu menunggu bus, sekalian membeli kaos kaki dan sarung tangan yang tadi kami lihat disana. Lumayan lebih murahlah dibanding toko di Takayama lainnya. Kota Takayama yang sangat cantik dan tenang itu kami tinggalkan dengan hati berdebar demi menjangkau Desa Tradisional yang masuk daftar UNESCO ini, Shikarawago.

SHIKARAWAGO

Karena antusias para traveler untuk mengunjungi desa ini dari Takayama sangat tinggi, kami yang saat itu mengambil jadwal keberangkatan antara pukul 8 atau 9 (saya lupa), disediakanlah 2 Bus yang berjejer untuk mengangkut kami di jadwal keberangkatan jam tersebut. Tidak ditentukan secara per tiket bus mana yang akan kami naiki, pilihan Bus hanya berdasar pada antrian saja. Kalau bus pertama penuh ya artinya ikut Bus kedua, dan kami kebagian naik di Bus keduanya.

Sama dengan cara kami sebelum-sebelumnya, saya dan teman duduk terpisah dengan niatan agar mendapat kenalan lain didalam Bus. Saya tidak ingat teman saya akhirnya duduk dengan siapa, tapi saya saat itu duduk bersama seorang gadis dari Saitama Jepang yang sedang menuju ke pemandian air panas di dekat Shikarawago. Cukup lucu sebenarnya kami saat itu, karena si gadis ini tidak bisa bahasa inggris namun ingin mengajak saya mengobrol, akhirnya kami berbicara menggunakan Google Translate. Dia bilang dia ingin sekali traveling ke negara lain serta mau ke Indonesia, lalu saya becandain aja agar dia belajar bahasa inggris dulu sedikit-sedikit biar bisa bebas melalang buana nantinya.

Perjalanan dari Takayama menuju Shikarawago ini pemandangannya sangat bagus. Gunung disana-sini, Terowongan, serta sungai yang tampak jernih dilihat dari atasnya. Keluar dari Takayama-pun pemandangan kota ini begitu indah dan tenang, saya sampai tidak bisa berkedip melihat indahnya kota tersebut dari jalan lingkar luarnya. Saya dan kenalan dari Saitama ini mengobrol cukup panjang hingga akhirnya kami tertidur saat memasuki terowongan yang sangat panjang, mungkin ada kali 10 km saking jauhnya. Hebat juga si sopir tidak mengantuk seperti saya yang kebosanan tidak bisa melihat pemandangan apapun selain gelapnya si terowongan haha.

Akhirnya setelah hampir satu jam perjalanan kami mulai memasuki aset UNESCO Shikarawago ini. Dari atas saya cukup bingung juga ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan desa ini. Sebelum masuk ke kawasan Shikarawago-nya, ternyata ada kota dengan bangunan masa kini disisi pintu masuknya. Wah, ternyata begitu, gumam saya saat itu. Kamipun turun di Terminal dan langsung mencari loker untuk menitipkan barang kami yang lumayan banyak itu. Sebelumnya saya sudah baca-baca informasi tentang terminal ini, katanya ada loker yang disediakan disisi belakang terminalnya. Namun semua loker saat itu tertutup, entah karena sudah penuh, entah karena memang sengaja tidak difungsikan. Wong nyatanya ada satu rumah dibelakang terminal yang menampung bawaan kami dengan harga lebih besar dari harga si loker. Hehehe.

Saya lupa juga berapa biaya yang kami keluarkan untuk membayar persewaan tempat untuk barang kami tersebut. Yang pasti, per barang akan dihargai per masing-masingnya juga, bahkan tas kecilpun. Kami saat itu menitipkan 2 koper besar dan 1 tas kecil, lumayan juga biayanya. Selesai menaruh koper kami langsung ke arah loket untuk memesan tiket bus ke arah Toyama dengan jam keberangkatan pukul 16.50. Kami mengira 5 jam akan sangat tidak cukup untuk berkeliling di Shikarawago ini, tapi lucunya kami akhirnya sampai mengganti 3x jam keberangkatan bus kami ke Toyama ini karena ternyata bahkan dengan waktu 2 jam saja sudah sangat cukup sekali untuk berkeliling disana. Yup, kota ini kecil, ga seluas yang kami berdua bayangkan.

Pemandangan di perjalanan ke observatory.
Sawah dan rumah tradisional dikanan-kiri.
Sepi, dingin, hujan rintik-rintik.

Bosan oi, lari-lari yuk mumpung sepi.

Kami lalu berjalan ke arah Observation Deck untuk melihat keseluruhan Shikarawago dari atas. Kami berjalan kurang lebih 15 menit dengan menantang angin serta hujan rintik-rintik yang saat itu turun. Sampai diatas kami mendapati sepasang orang tua yang meminta saya untuk memotret mereka berdua. Kami lalu berjalan lagi sampai di Tenshukaku Observatory dan berfoto di sana. Nah saat di Observatory ini, ada pekerja mereka yang menanyakan negara kami lalu disambut dengan bahasa kami seperti "Oh Indonesia, selamat datang, kamu bisa berfoto disini gratis." sambil diarahkan ke lokasi untuk berfoto mereka plus kamera kami dibawa dan digunakan untuk memfoto kami lalu mereka akan memfoto kami dengan kamera DSLR mereka sendiri.

Saat itu kami pikir mereka kok baik banget mau motoin kami di lokasi yang bagus ini dengan gratis, hingga akhirnya kami tahu kalau foto dari kamera DSLR mereka tadi diprint oleh mereka dan dijual dengan harga yang fantastis, JPY 1.200 ke kami. LOL. Ya semacam kalau lagi main di dufan gitulah, difoto lalu diperlihatkan hasil fotonya saat kami keluar lokasinya, kalau mau ya bayar, kalau ga mau ya dibuang. Ckckck.

Teman saya saat itu memutuskan untuk membeli foto tersebut sebagai kenang-kenangan. Berbeda dengan saya yang itung-itungan dan merasa cukup dengan foto di Mirrorless saya. Kami terlihat pucat sekali didalam foto tersebut, terlihat sekali kalau kami kedinginan serta kurang tidur karena kecapekan berjalan kaki terus menerus beberapa hari ini. Sebenarnya, ada shuttle yang bisa membawa wisatawan dari satu titik ke area Observatory ini. Namun berjalan kakipun ternyata juga bisa dan jaraknya tidak begitu jauh. Sesuaikan saja dengan kondisi badan masing-masing, kalau kami sih sengaja memilih berjalan kaki karena selain menghemat biaya juga tidak perlu menunggu kedatangan shuttle yang terjadwal tiap beberapa menitnya.

Nah, diperjalanan ke bawah lagi setelah puas dilokasi Observatory ini, saya dan teman tiba-tiba mengubah rencana untuk memperpendek waktu untuk berjalan-jalan di area ini. Kami lalu balik ke terminal dan meminta petugas untuk mengubah jadwal Bus kami ke pukul 15.30. Kami mengubah jadwal tersebut setelah melihat dari Observatory kalau ternyata Shikarawago tak sebesar itu dan kemungkinan sekali muter saja juga sudah selesai. Setelah petugas selesai mengubah jadwal tiket kami, kami lalu melanjutkan jalan-jalan kami kembali. Kami juga mampir ke toko kelontong untuk membeli makanan kecil semacam onigiri disana, namun karena tidak ada onigiri disana ya akhirnya kami keluar dengan tangan kosong. Kami berdua saling lihat-lihatan saat melihat kaos kaki dan sarung tangan murah disana, sangat murah dibanding yang kami beli di terminal takayama tadi pagi. Yahhh menyesal.

Kami lalu berjalan ke arah jembatan tali yang penuh dengan wisatawan berfoto disana, oyak atau bergoyang disana-sini tapi ya lumayan seru juga. Sementara saya didalam jembatan memfoto pemandangan disana, si teman ternyata sedang sibuk diujung jembatan tengah membenarkan jilbabnya yang licin itu. Saya lalu ke arah teman saya lalu kami melanjutkan berjalan kaki untuk mencari tempat makan karena kami sangat kelaparan saat itu. Kalau diingat-ingat ternyata terakhir kami makan itu kemarin malam, dan pagi tadi hanya memakan sisa-sisa makanan yg kami bungkus tadi malam dan hanya cukup untuk mengganjal perut sementara. Hawa dingin ternyata bisa membuat kami lebih sering kelaparan dibanding cuaca hangat.

Kami langsung mengambil handphone dan melacak keberadaan restoran dengan bintang minimal 4 disana. Setelah ketemu, kami langsung menuju restoran tersebut yang ternyata sedang tutup. Karena sudah tidak tahan dengan rasa kelaparan itu, kami lalu langsung saja mencari restoran manapun yang antriannya terlihat sedikit. Sekedar info, semua restoran disana saat itu penuh dan banyak orang-orang yang antri didepannya. Kami lalu antri saja disalah satu restoran bernama Nomura yang antriannya tidak begitu mengular, dan tidak sampai 2 menit kami langsung mendapat kursi serta siap menyantap makanan disana. 

Sempat menyesal juga masuk restoran ini karena set yang disajikan ternyata sangat biasa dan porsinya kecil untuk makanan seharga JPY 1.050. Set yang kami pilih terdiri dari Soba dan Nasi, kami hanya membeli 1 set saja untuk dimakan berdua karena kami lihat pengunjung disebelah kami set yang dipilih porsinya sedikit padahal harganya lebih mahal dari yang kami pesan. Niatnya sih kami mau mencari tempat makan lagi di resto lain disana, tapi ya rencana hanyalah rencana. Kami berakhir tidak menemukan restoran lain lagi karena semuanya penuh dan akhirnya kami hanya berputar-putar saja di area Shikarawago yang luasnya hampir sama dengan kampung di desa saya ini.

Kami lanjut keliling dari satu gang ke gang lain lalu naik ke bagian atas Shikarawago yang terlihat lebih sepi. Rintik hujan juga makin menjadi-jadi dan sampai di atas kami berasa mentok tidak tahu mau ngapain lagi karena kesananya sudah tidak ada apa-apa lagi selain parkiran mobil. Ternyata membosankan juga jalan-jalan di Shikarawago saat itu, entah karena efek hujannya atau karena memang tidak ada aktifitas apa-apa selain foto-foto yang bisa kami jalani disana. Harusnya sih kami cari info dulu ada museum atau tidak disana, tapi ada museumpun juga tidak begitu membantu sepertinya. Entahlah, kami merasa sangat bosan disana, dan akhirnya kami turun lagi ke arah terminal sambil memeluk erat lengan kami karena hawa dingin makin merayap pelan-pelan masuk ke relung tubuh kami.

Saat itu masih pukul 12.30, kami yang sudah merasa bosan, diperjalanan ke arah terminal akhirnya memutuskan untuk mengubah rencana kami lagi. Setelah melihat jadwal keberangkatan bus ke arah Toyama paling dekat ternyata ada di pukul 13.20 yakni 40 menit lagi, kami langsung memutuskan untuk bergegas ke arah Terminal dan berharap bisa mengubah jam tiket kami lagi ke jam tersebut. Syukurnya petugas mempersilahkan kami untuk mengubah jadwal bus LAGI dan disaat yang bersamaan bus sudah stand-by dijalurnya, jadi kami langsung naik bus ke arah Toyama tersebut. Ya, ternyata di Shikarawago hanya dalam waktu 2-3 jam itu sudah sangat cukup, ya setidaknya buat kami yang kedinginan dan kebosanan saat itu.

Diperjalanan ke arah Terminal tadi, ada situasi dimana teman saya tiba-tiba nyeletuk begini:

"Dingin banget mi, pengen minum beer jadinya biar anget,"

Sayapun langsung sumringah dan menantang teman saya itu:

"Beneran mau? Kalau iya coba yuk beli 1 kaleng aja buat berdua, yang 3,5% aja." yang disambut hangat oleh teman dengan kata: 

"Boleh yuk mi!".

Kami lalu berbagi tugas, saya ke arah toko kelontong dan teman ke arah terminal untuk menukarkan si tiket tadi. Biar tidak ketinggalan Bus ya harus bagi tugas kan, kalau dua-duanya nyari minuman ya dijamin sudah ditinggal si bus, apalagi sudah mepet begitu waktunya. Saya langsung saja mengambil 1 kaleng beer rasa lemon dengan kadar alkohol 3,5%nya. Lalu lari tunggang langgang ke arah terminal yang untungnya disambut hangat oleh tiket dadakan yang kami ubah untuk ketiga kalinya itu LOL. Kami lalu mengambil barang kami yang ditaruh dibelakang terminal, mengingat awalnya kami berencana pulang sore koper kami ditaruh agak dibelakang oleh si petugas. Cukup terlihat kalau si petugas penitipannya sedikit kesal karena bawaan kami keluar sebelum jadwalnya dan harus mendorong koper-koper didepannya untuk bisa mengeluarkan koper kami dari persembunyiannya. Tapi toh akhirnya lancar juga, dan akhirnya kamipun ikut keluar juga dari Shikarawago yang dingin, ramai, dan membosankan itu.

TOYAMA

Masih menunggu Bus, saya lalu ke toilet sebentar, lalu naik ke Bus yang ternyata hanya berpenumpang 7 orang beserta sopirnya itu, pantas kami mengubah jadwal sampai 3x pun petugasnya oke oke saja, ternyata karena sepi ini, coba kalau penuh dijamin ditolaklah kami. Bus yang lega seperti itu membuat saya dan teman mengambil kursi sendiri-sendiri agar sama-sama mendapat view jendela bus. Jendela itu seperti mata kan? Bisa mempertemukan kita dengan pemandangan indah di luar bus yang kami naiki. Dan benar, pemandangan indah arah Shikarawago ke Toyama ini membuat keputusan kami untuk mengambil kursi sendiri-sendiri menjadi sangat tepat karena viewnya indah sekali.

Kami akhirnya mencoba meminum beer dengan 3,5% alkohol tersebut, untuk pertama kalinya dalam 28 tahun kami hidup akhirnya kami menyicipi minuman bernama beer! Pas juga dengan hawa dingin seperti saat itu, dan lokasinya pun di Jepang pula kan! Beer ini ternyata rasanya enak juga ya, kehangatannya langsung menjalar ke tenggorokan kami pelan-pelan, tenggorokan dan dada-pun rasanya menjadi lebih hangat. Setelah saya meminumnya satu tegukan, teman saya meminumnya bergantian dengan saya. Teman saya hanya kuat 2x tegukan saja dan dia dada-dada ke saya alias menyerah karena tenggorokan dan dadanya terasa sangat panas setelah meminum beer tersebut. Saya masih meminumnya lagi sampai beberapa tegukan, sampai akhirnya beer kalengan tersebut tergeletak begitu saja di tempat botol di jok kursi depan saya tak saya sentuh lagi sampai saya turun didepan Toyama Stasiun.

Kami lalu asyik menikmati pemandangan perjalanan dari Shikarawago ke arah Toyama ini. Kami sempat melewati sekelebat desa tradisional lain yang terlihat dari sisi jalan tol. Gunung, dedaunan yang memerah, salju dipuncak gunung, serta sungai dibawah jembatan bergantian seperti roller film diantara jendela kami, sangat indah. Saat keluar dari area pegunungan kami mulai memasuki area jalan tol dengan pemandangan perumahan di pinggiran jalan serta sawah-sawah yang berjejer dikanan-kiri kami. Tak lupa saat melihat ke arah belakang bus, kami melihat pemandangan Alphinenya negara Jepang. Akan lebih bagus lagi jika kami mengambil jalur Shikarawago dari arah Toyama ini, karena Japanese Alphinenya kelihatan sangat jelas dan berjejer dengan indahnya didepan sana. Gunung membentang dari ujung ke ujung dengan siraman salju dipuncak-puncaknya. Sayang saja kemarin cukup mendung, jadi pemandangan gunungnya hanya terlihat samar-samar.

Sampai Toyama kami memutuskan untuk mencari tempat makan lagi. Kami masih kelaparan karena soba yang tadi kami makan tidak cukup untuk memenuhi perut kami berdua. Ya gimana ya, orang kita cuma beli 1 set dimakan berdua. Kami memilih untuk memakan sushi di Stasiun Toyama, katanya sih area Toyama ini terkenal akan sushinya yang fresh jadi bolehlah buat kami coba. Bus yang kami naiki menurunkan kami di halte depan Stasiun Toyama, tidak tepat didepannya tapi lumayan dekat. Diperjalanan ke arah stasiun ini, kami melihat tram yang lalu lalang tepat didepan stasiun. Sempat terkejut juga karena baru kali itu kami melihat tram saat di Jepang.

Kami masuk ke Sushitama dan membeli set sushi serta beberapa satuan sushi yang disajikan per piring. Kami tidak tahu kalau cara makan sushi di Jepang ini berbeda dengan di Indonesia. Pada sushinya sudah diletakkan wasabi diantara nasi dan ikan/toppingnya. Saat pertama kali mengunyah sushi ini, kami berdua langsung merasa ditampol orang sampai air mata kami keluar. Kami berdua bingung tapi tidak tahu kenapa bisa merasa begitu, lalu kami mencoba memakannya lagi, dan rasanya masih sama saja, seperti tiba-tiba ditampol orang. Lalu saya berinisiatif untuk membuka bagian antara nasi dan topping pada sushi didepan kami setelah teman berkata kalau sepertinya efek tampolan ini karena ada wasabi di sushinya. Saya heran, kan kami berdua tidak menotolkan sushi ke wasabi sama sekali, kok bisa ada wasabi? 

Tapi toh ternyata benar, wasabinya ternyata sudah diletakkan diantara nasi dan toppingnya oleh chef disana. Mana banyak lagi, ga hanya setotol ini mah. Ya pantesan rasanya sampai sebegitunya, kami berdua lantas bekerjasama untuk mengeluarkan wasabi tersebut, tapi ya tetap saja tidak bisa sebersih itu dan masih ada sedikit sisa wasabinya yang menempel diantara keduanya. Sisa sedikit wasabi saja bisa membuat kami berdua kelojotan apalagi yang full seperti tadi coba. Lucunya, teman saya sampai menyerah dan tidak bisa melanjutkan makan sushi yang kami pesan tersebut. Dan akhirnya-pun, saya pelan-pelan harus bisa menghabiskan sushi tersebut sendirian. Bayangan sushi yang fresh dan nikmat seperti kata review orang-orang di Google Maps praktis bubrah semua dilidah kami, fresh apanya, bikin nangis iya. 

Total Sushi dan minuman yang kami pesan disini IDR 209.501, saya bayar pakai Jenius.

Setelah kami keluar dari restoran dan menuju ke lantai atas (sampai di stasiun untuk menunggu si Shinkansen). Saya tiba-tiba ingat kalau Beer yang kami beli di Shikarawago tadi ketinggalan di restoran sushi tadi! Teman saya kemudian balik ke restoran tersebut dan kembali ke atas dengan tangan kosong karena para staf di restoran tidak mengerti bahasa inggris dan malah menjelaskan sesuatu yang lain ke teman saya, entahlah ga jelas. Mungkin sudah dibersihkan juga selepas kami keluar dari sana, jadi ya sudahlah. Sayang sebenarnya, baru 8x tegukan sudah tiba-tiba dibuang gitu kan.

Japanese Alphine yang muram. 

Rumah disepanjang sisi tol.

Dipersimpangan jalan.

Sawah, Alphine, Rumah.

Menanti Shinkansen ke arah Tokyo.

Amazing Toyama, kalau cerah Alphinenya akan sebagus itu.
TOKYO

Sampai saat itu kami masih belum bisa memutuskan untuk melanjutkan tujuan kami, mau kemana, kesana apa kesini atau kesitu? Bingung! Kami benar-benar tidak punya tujuan saat itu, hotelpun tidak ada. Lalu, kami putuskan dengan impulsifnya menuju ke Tokyo saja, serta baru membooking hotel saat sudah didalam kereta Shinkansen. Kami putuskan juga untuk membooking hotel yang sama dengan hotel yang sudah kami booking untuk 3 hari berikutnya, Samurai Asakusa Hotel. Alasannya simple, agar kami tidak perlu menggeret-geret koper lagi, kami sudah lelah. Kami lalu turun di Stasiun Ueno dan membeli Tokyo Metro Pass untuk 72 jam atau 3 hari seharga @ JPY1.500.

Kami sempat dibuat pusing lagi di stasiun ini sama seperti saat kami di Osaka Stasiun beberapa hari lalu, Ueno Station itu gedenya luar biasa dan tiap kereta punya jalur yang berbeda. Kami mau keluarpun tidak tahu caranya bagaimana karena signnya cukup memusingkan. Kami lalu bertanya ke petugas disana, dan disuruh keluar lewat pintu keluar yang bukan seharusnya, kami pakai JRPass ya jadi punya pintu masuk-keluar yang berbeda dengan merk kereta lainnya. Karena sudah pusing kami asal ikuti saja petunjuknya, dan berujung kena jotos pintu otomatisnya huf.

Karena kami butuh membeli Tokyo Metro Pass tadi, saya dan teman lalu berbagi tugas lagi. Karena kami malas untuk mengotong koper kebawah. Kami bagi saja dengan cara ini: teman menunggu koper diatas dan saya ke bawah mencari ruang untuk membeli Metro Pass ini. Saya lalu turun ke lantai bawah hingga 3 lantai, awalnya sempat menyerah karena tidak ketemu-ketemu juga tempat membeli metro pass ini. Apalagi sampai bawah tadi saya teringat kalau pasport teman saya tidak saya bawa. Tapi karena malas keatas, saya minta saja difotokan passportnya dan setelah itu saya berhasil menemukan ruang untuk membeli Tokyo Metro Pass ini, dan ternyata cukup dengan menunjukkan 1 passport saya saja tidak masalah meskipun membeli 2 Metro Pass-pun, wah perjuangan sekali.

Selesai mendapat Tokyo Metro Pass, saya lalu ke atas lagi untuk menjemput teman dan koper kami, kami kebawah lagi menuju ke subway, naik subwaynya lalu turun di Asakusa Stasiun. Kami beruntung sekali saat keluar di Asakusa ini, karena kami melihat ada lift yang langsung menuju ke arah hotel kami!! Ya memang masih jalan lumayan juga, tapi setidaknya kami tidak harus mengangkat koper dari subway ke jalan raya seperti saat kami turun dari Pintu Ueno ke bawah tanahnya, capek. Liftnya ini ternyata tepat berada didepan Kaminarimon Gate Sensoji, untuk menuju ke hotel, kami tinggal belok ke kanan sekali serta ke kiri sekali lagi, dan tibalah kami di Hotel, yeess! 

Sampai di hotel kami langsung check in dan menaruh barang kami di kamar, sempat juga tidur sebentar saking capeknya menempuh perjalanan sepanjang itu. Tapi kami langsung lanjut lagi setelahnya dengan menaiki subway ke arah Shibuya, niatnya sih mau makan Torikatsu Chicken di Shibuya ini, sayangnya sampai di stasiun Shibuya sudah mendekati jam restorean tutup. Ditambah lagi google maps tiba-tiba error disana, ya sudah, kami langsung pindah haluan ke Gyukatsu Motomura (lagi), dan masih pakai kesasar juga karena Google Maps yang terus lari-larian acak. Berasa dejavu dengan situasi kami saat di Korea 2017 silam.

Meski begitu, akhirnya kami sampai juga sih di GM dan masih harus mengantri dengan berdiri di tangga-tangganya sampai lebih dari 30 menit. Kami masih teramat penasaran dengan rasa GM yang katanya luar biasa ini, yang saat kami cicipi di hari pertama di Ueno ternyata biasa saja di mulut kami. Siapa tahu kan beda cabang beda rasa, dan memang benar ya, beda cabang beda rasa, pun beda penyajiannya karena yang di Shibuya ini tidak disajikan mayonaise seperti yang disuguhkan di GM Ueno, padahal enak sekali lho mayonaisenya itu, sayang sekali. Meskipun berbeda tapi bagi kami masih biasa saja sih, tidak sebegitu wownya menurut kami GM ini.

Selesai makan, kami lanjutkan dengan berjalan sebentar di area Shibuya, karena sudah sangat lelah harus menempuh perjalanan Asakusa-Shibuya-Asakusa dengan jarak tempuh total 2 jam serta Bus dari Takayama-Shikarawago-Toyama, masih juga Shinkansen Toyama-Ueno, pun Subway Ueno-Asakusa, maka kami putuskan untuk pulang dan kembali ke hotel kami di Samurai Hostel Asakusa untuk tidur. Angin serta udara yang dingin masih setia menampar-nampar wajah kami selepasnya kami keluar dari stasiun kala itu. Kami tertawa saja berdua sambil menikmati hari-hari yang sebentar lagi akan usai di Jepang ini.

Biaya :
Bus Tak-Shi: JPY 2.400
Koper: lupa
Makan Shi: JPY 1.050
Buk Shi-To: JPY 1.730
Sushi: IDR 209.501
TMP 72 Jam: JPY 1.500
Samurai HA: IDR 432.884 (berdua)
Lainnya lupa


umiatikah

You Might Also Like

1 Comments

  1. Halo, Umi! Salam kenal!
    Beneran deh di Shirakawa-go rasanya bingung banget mau ngapain!

    Btw foto-fotonya bagus, salam kenal yaa!

    ReplyDelete

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide