Sakit & Opname di Rumah Sakit Menggunakan BPJS Kesehatan

March 08, 2021


Seminggu yang lalu saya keluar dari rumah sakit setelah opname selama 5 hari dengan tangan yang bengkak sebesar ganjelan pintu. Saya tidak sadar tangan saya bisa sebengkak itu kalau suster yang bertugas mencabut infus ditangan tak memberitahu. Praktis dengan santainya saya bilang, "Ya pasti sus, tadi malem pas infusnya suster benerin kan sakit banget itu sampai nangis saya, pas suster ga ada sampe sejam nyerinya parah banget," tapi si suster cuma jawab "oh gitu," doang. 

Beberapa hari lalu, saya masuk rumah sakit lewat jalan UGD karena pinggang sakitnya ga karu-karuan sampai saya ga bisa gerak, geser badan aja sakitnya ga main-main. Saya lalu ijin ga masuk kerja dan menunggu teman bangun dari tidurnya untuk minta diantar ke UGD. Sampai di UGD saya langsung di periksa oleh sang dokter dan langsung dikasih keputusan untuk opname disana. Selang beberapa menitpun saya langsung diminta untuk mendaftarkan diri, untungnya dengan bantuan sang teman akhirnya saya bisa registrasi tanpa perlu menggeser badan yang tak bisa digeser ini.

Saya memakai asuransi BPJS Kesehatan setiap kali melakukan pengobatan terutama saat situasi kritis seperti ini. Tidak perlu surat rujukan, kalau badan sudah sesakit itu kita bisa langsung akses ke UGD dan mendapatkan perawatan. Tidak ada yang berbeda antara asuransi umum ataupun asuransi BPJS KS ini, dalam hal perawatan terutama. Karena saya pernah juga memakai jalur Umum untuk rawat inap serta operasi dan yah sama saja. Saat pendaftaran tersebut teman saya datang lagi ke saya dengan membawa pilihan untuk tetap mendaftar di kelas 1 atau upgrade ke kelas VIP dengan DP 3jt. Praktis saya memilih kelas 1 saja karena sudah pasti gratis (ga gratis juga, wong bayar tiap bulan), meskipun sempat was-was juga karena situasi sedang Covid19 begini.

Karena sedang Covid19 juga, pasien serta penunggu pasien harus melakukan tes Covid19 agar bisa ditempatkan sesuai ruang yang telah disediakan. Untuk penunggu cukup melakukan rapid tes seharga 75rb, jika reaktif maka sang penunggu tersebut tidak diperkenanka untuk masuk. Sedangkan untuk pasien dilakukan ctscan dada serta rontgen, jika reaktif maka pasien akan langsung mendapatkan perawatan di ruang isolasi. Syukurnya saya dan teman saya non reaktif, jadi kami bisa dirawat diruang biasa, hanya saja kami tetap harus memakai masker setiap saat bahkan saat kami sedang tidurpun.

Setelah mendapatkan ruangan, saya saat itu langsung dijadwalkan untuk USG Lower Abnomen karena pendapat pertama ginjal saya bermasalah dan saya dirujuk ke dokter Urology oleh pihak UGD. Namun setelah selesai USG, besoknya saya dipindah dan rujuk ke bagian Obgyn dan dipindah juga ke ruang lain yang dikhususkan untuk ruang ibu dan anak. Alasannya sudah jelas karena urusan perahiman harus dirawat oleh bidan-bidan disana, agar lebih seksama katanya.

Hari kedua opname di ruang yang baru membuat saya cukup kaget karena dipan di ruang ibu dan anak lebih lebar daripada dipan di ruang biasa. Sayangnya juga banyak tangisan bayi disana-sini yang membuat gendang telinga saya cukup terganggu. Tapi selama 2 hari di ruangan tersebut saya hanya sendirian di ruangan dengan 2 dipan ini, saya yang saat itu berkeinginan untuk upgrade ke VIP akhirnya saya batalkan dan menikmati suasana satu ruangan untuk saya sendiri di kelas 1 ini.

Saya baru bertemu dengan sang Dokter Obgyn dihari kedua sore harinya, dan baru di hari kedua itu saya diberi antibiotik serta obat anti nyeri yang syukurnya langsung bisa meredakan sakit pinggang saya tersebut. Saya sudah lumayan bisa menggeser badan saya dengan sedikit leluasa dibanding sebelumnya. Nah, saat akhirnya saya bertemu dengan sang dokter ini, saya kemudian di USG kembali dan syukurnya rahim saya sudah membaik. Sang dokter menjelaskan bahwa hasil USG sebelumnya pada rahim saya ada cairannya, itulah mengapa saya dipindah dari bagian Urology ke bagian Obgyn. Ginjal saya baik-baik saja dan syukurnya juga cairan dalam rahim serta ukuran rahim saya sudah kembali normal setelah diinfus dengan antibiotik tersebut.

Beliau juga menjelaskan bahwa antibiotik setidaknya harus diberikan kepada saya selama tiga hari berturut-turut, yang artinya saya masih harus opname lagi selama setidaknya tiga hari. Saya cukup puas dengan Dokter Obgyn saya saat itu, berbeda dengan Dokter Obgyn sebelumnya (2019 lalu saya opname dengan diagnosa serupa) yang lebih ke arah judging, dokter yang sekarang ini lebih yang well-manered. Selain menjelaskan dengan baik, beliau juga tidak menghakimi apapun tentang diri saya. Kenapa saya bilang begini? Karena Dokter Obgyn sebelumnya tiba-tiba nyerocos begini ke saya:

Baru duduk dikursi ruang prakteknya:

"Umur kamu berapa? Sudah menikah? Lho kenapa belum menikah? Umur kamu sudah segitu ya nikah dong, masak belum..........." bla bla bla~

Lalu di meja USG:

"Ini kenapa rahim kamu sebengkak ini? Kamu ngapain aja? Kenapa ini ada cairan sebanyak ini? Ga normal lho ini!"

Saya syok berat saat itu, saya ke beliau karena saya butuh bantuan atas sakit yang saat itu saya rasakan, tapi malah di cecar dengan penghakiman dan pertanyaan yang seharusnya saya sendiri yang menanyakan itu ke beliau. Berbeda dengan Dokter yang sekarang, beliau bertanya secukupnya dan menjelaskan sesuatunya dengan sangat rinci kepada saya, tidak ada judgement dan kawan-kawannya, saya merasa nyaman saja diperlakukan seperti itu.

Opname masih berjalan, sampai hari ketiga atau minggu sorenya pinggang saya sudah enakan dan saya bisa bebas bergerak tak seperti sebelumnya. Hari senin pun sama, badan sudah bisa bergerak dengan leluasa. Senin sore dokter visit ke kamar saya dan menyampaikan kalau besok saya sudah bisa pulang dan bisa melakukan rawat jalan. Nah, malamnya pukul 1 am, saat saya ke kamar mandi jarum infus saya keluar darah alias darah saya naik. Saya panggillah suster jaga dengan tombol panggilan darurat untuk pasien. Tapi saat dibenarkan aliran infusnya, pembuluh darah diujung jarum serasa dilipet di-krues sakit banget sampai saya teriak, nangis, dan marah. Saya sampai melempar selimut saya karena suster tidak peduli dengan teriakan rasa sakit saya itu. Saya menangis dengan mata saya tutup dengan selimut tadi.

Si suster tiba-tiba seperti kasihan ke saya, dan membenarkan letak tangan saya serta menyampaian untuk tidak menaruh tangan saya keatas dengan halus. Saya diam, masih menangis lalu si suster pergi. Tapi, pembuluh darah saya lebih sakit lagi dari saat aliran infus dibenarkan oleh si suster. Mungkin sampai 40 menitan sakitnya, bahkan lebih. Saat itu saya marah dan menangis dan semua jenis pikiran buruk hinggap di kepala saya. Saya sempat ingin memanggil susternya lagi dan meminta untuk diganti saja jarum infusnya karena tangan kanan saya sudah tidak sanggup lagi menahan sakit itu. Tapi karena tinggal besok pagi infus sudah dilepas dari tangan saya, maka sayapun menahannya saja.

Selang 60 menit sakit itu reda, sayapun tertidur pulas sampai paginya saat suster datang ke ruang inap saya. Nah, disana saya diberitahu si suster kalau tangan saya saat itu bengkak. Saya tidak begitu syok karena memang tadi malam sakitnya luar biasa sekali. Tak perlu waktu lama jarum infuspun akhirnya dilepas dari tangan saya yang bengkak itu, meninggalkan saya sendirian bebas tanpa jarum dan selang.

Saat itu masih pukul 6 pagi, sampai pukul 9 saya hanya di ruangan itu glundang-glundung saja sambil menunggu informasi kepulangan saya. Tepat pukul 9 suster datang menyerahkan dokumen kepulangan untuk diurus di ruang kaca dibawah. Namun karena tidak ada yang menunggu saya saat itu dan sepupu yang saya tunggu-tunggu hingga pukul 10.30 tidak kunjung tiba, akhirnya sayapun mengurus sendiri dokumen tersebut yang ternyata tidak sampai 5 menit sudah beres di bagian administrasi. Keren juga asuransi BPJS ini ya, simple dan cepet penanganannya.

Semua staf di administrasi maupun suster diruangan saya cukup syok melihat saya mengurus dokumen tersebut sendiri. Mungkin mereka merasa kasihan juga sama saya, "kasian ya ga ada yang bantuin" hahaha. Tapi saya sudah ingin pulang saja saat itu, ada orang lain yang membutuhkan ruangan inap ini diluar sana, sedang antri untuk masuk. Masak saya harus menghalangi hanya karena tidak ada yang menguruskan administrasi saya. Sekembalinya keruangan setelah mengurus administrasi yang tidak sampai 5 menit tersebut, saya lalu ditemui oleh suster diruang inap dan diberikan obat-obatan serta surat rawat jalan agar seminggu lagi saya bisa berobat kembali ke RS tersebut. Syukurnya juga kolega dikantor datang menjemput saya didepan lobby dan mengantar saya ke rumah yang jaraknya hanya 5 menit berkendara dari Rumah Sakit itu.

Meskipun masih lemas, saya dirumah tidur saja sambil meminum obat dan membeli makan via layanan Gojek dan Grab. Sementara, sepupu saya saat itu masih pulas tertidur dan tidak menghiraukan kehadiran saya yang gludukan didalam rumah kontrakan. Tolong jangan seperti itu ya, apalagi kalau salah satu anggota keluargamu ada yang sakit, bantu dia, jangan egois padahal sudah dimintai tolong dari pagi untuk mengurus itu semua. Ga sampe 5 menit selesai kok, ga ribet ngurus administrasinya. :)


umiatikah

You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide