Jepang: Tokyo, Malam Terakhir Kami Akhirnya Datang

August 23, 2021

Tokyo, 30112019 

Pagi datang lagi dengan selimut tebal yang menutupi tubuh didalam bilik berukuran 200 x 110 cm itu. Hostel yang kami tempati selama 3 hari 3 malam ini cukup hangat untuk dijadikan tempat tinggal dihari-hari terakhir kami di Jepang ini. Sayang saja ternyata lokasinya teramat jauh dengan area yang akan kami datangi hari ini: Shinjuku, Tokyo, Ginza. Teman saya sudah berdandan rapi saat saya baru saja menyibak tirai bilik tidur saya. Kami memang sudah janjian sejak malam sebelumnya untuk bertemu diluar hari itu karena teman saya masih harus mencari barang titipan rekan kerja di kantornya. Kami lalu berpisah dengan saya menuju kamar mandi untuk mandi serta teman ke area Don Quijote yang berjarak hanya 290 meter dari hostel kami.

Setelah mandi dan bersiap diri, saya cukup terkejut melihat wanita-wanita disebelah saya yang dengan totalnya berdandan bahkan sampai memakai masker wajah juga disambi memakai lotion ditubuhnya. Saya yang hanya memakai krim wajah serta lipstik cukup terpesona dengan sabarnya mereka berdandan seperti itu. Benar-benar ya pelajaran baru bisa juga didapat di kamar mandi bersama di sebuah hostel ini, kalau ingin terlihat cantik maka belajarlah dandan! Jangan terlalu pelit dengan hal yang bisa membuatmu lebih percaya diri. Tapi karena saya pemalas ya dandan seadanya juga gapapa, be yourself!

Selesai bersiap, saya lalu menghubungi teman saya dan meminta lokasinya via whatsapp. Berhubung internet hanya teman saya yang punya, maka saya memanfaatkan wifi di hostel untuk menghubungi dan mencari arah dari maps untuk menuju lokasi teman tersebut. Saya lalu berangkat dan ikut berjalan ke arah Don Quijote. Saat saya masuk ke DQ, kami langsung berputar-putar mencari sesuatu untuk dibeli. Hari itu benar-benar kami fokuskan untuk hari beli-beli karena memang kami tidak ada tujuan lain saat itu hahaha. Ke lantai duanya saya sempat kalap pengen membeli semacam shampo serta wangi-wangian yang baunya style saya banget disana. Sayang karena melihat harganya cukup mahal maka saya urungkan dan hanya membeli makanan instan serta matcha yang nantinya saya kirimkan ke rumah.

Karena belanjaan kami cukup banyak, kami lalu keluar dan kembali ke hostel. Tapi sebelum ke hostel kami mampir ke Mall dekat DQ untuk ke GU karena saya masih ingin shopping baju disana. Saya mendapat pengalaman berharga saat di GU ini, yakni membayar baju pakai authomatic cashier. Untuk pertama kalinya saya membayar baju di toko tanpa perlu ke kasir dan menemui kasir nyebelin seperti saat di Shibuya. Cukup datangi tempat authomatic cashiernya, ikuti instruksi yang ada di mesin, masukkan barang dan voilaaa struk belanjaan keluar. Saya tidak memvideokan saat memakai authomatic cashier ini, jadi kalau mau lihat seperti apanya cek saja link ini.


Selesai dari GU, kami juga mampir ke sejenis toko Daiso yang menjual barang pernak-pernik untuk oleh-oleh. Saya sendiri disana membeli bantalan telapak sepatu karena sepatu yg saya beli tadi malam terlalu keras, serta membeli sumpit dan gantungan kunci untuk saya bagikan di tempat saya bekerja. Lumayan murah membeli pernak-pernik disini jadi saya yang emang anti beli oleh-oleh dengan sukarelanya jadi membeli oleh-oleh. Hehehe. 

Masih di Mall yang sama, kami juga mampir lagi ke salah satu toko baju yang sering kami lihat akunnya di Instagram. Jujur saya tidak tahu kalau itu toko yang saya follow di Instagram kalau si teman saya tidak bilang ke saya saat kami sudah keluar dari toko itu haha. Lumayan juga dapet rok lagi dengan harga diskon, sedangkan teman lumayan membeli banyak baju disana. Selesai urusan di Mall kami langsung keluar dan mencari jalan dengan arah berbeda untuk kembali ke hostel. Ya namanya juga lagi melancong, kalau jalan di arah yang sama dengan jalan yang kita lalui sebelumya rasanya kan aneh ya. Kami sekalian melewati pasar sambil melihat-lihat display makanan, tahu kan kalau di Jepang itu display makanannya sangat menggoda karena beneran persis dengan makanan aslinya? 

Nah, kami juga sambil melihat-lihat barang di pasar tersebut sampai akhirnya berhenti di Naruto Taiyaki karena tergoda untuk membeli Kue Ikannya. Antrian untuk membeli kue ikan ini lumayan panjang, sambil antri kami memilih isian apa yang bakal kami beli. Saat itu dari pilihan rasa yang ada yang paling cepat atau ready stock hanya yang isian original, karena kami malas menunggu lagi kami langsung saja membeli isian yang saat itu ada. Baunya yang manis sangat menggiurkan sampai kami mempercepat langkah kami untuk menuju ke hostel karena tak sabar untuk mencicipinya.

Di hostel kami langsung menaruh belanjaan kami di bilik kamar kami, tak lupa juga saya mengganti sepatu baru yang saya pakai saat itu ke sepatu adidas saya. Capek juga memakai sepatu boots yang bantalannya keras gitu. Lalu kami ke lantai atas hostel sambil melihat Tokyo Tower diujung sana kami menikmati kue ikan hangat yang beraroma luar biasa itu disana, nikmat sekali!

Kue Ikan dan Tokyo Tower di pagi hari yang terik tapi dingin.
Ikut nampang bentar sekali-kali ya.

Masih Tokyo Tower.

Tidak mau membuang waktu lagi, kami lalu berjalan ke arah pasar kembali untuk makan siang, iya waktu terasa sangat cepat berlalu saat melancong begini. Tiba-tiba saja sudah pagi, lalu datang siang, lalu malam, begitulah. Kami yang dari awal mengincar salah satu restoran karena di display-nya ada menu Tempura jadi kami memilih restoran ini untuk makan siang hari itu. Iya gara-gara makan tempura tadi malam kami jadi keranjingan sama tempura ini, dan fyi sehari itu kami selalu makan di restoran yang menyajikan menu tempura, lol. 

Kami masuk ke restoran ini serta memesan tempura, kami sangat terkesan dengan pekerjanya yang sangat sigap meskipun ada pekerjanya yang sudah tua. Memang di Jepang ini tidak ada yang menyia-nyiakan waktu sama sekali, tidak ada terlihat pekerja yang hanya berdiam diri, semua sangat ulet dan rajin, saya sampai terkesima. Restoran saat itu sangat penuh, tapi kami tidak menunggu terlalu lama sampai menu yang kami pesan tersaji di meja. Begitu juga tamu di sebelah saya yang masuk tak lama dari kami duduk. Namun, rasa makanan yang disajikan rasanya biasa saja, tidak se-wah tempura yang tadi malam saya makan, tapi ya cukup untuk kita nikmati siang itu.

Tempura yang mahal tapi rasanya hanya lumayan.
Menu si Devi yang telat di foto. Itu saya yang menghabiskan akhirnya karena Devi suka bagi-bagi makanan ke saya hehe.

Selesai makan siang, kami lalu lanjut berjalan ke arah Shinjuku, kami baru menikmati shinjuku di waktu malam hari kemarin. Karena kami juga ingin merasakan suasana siang di Shinjuku, maka siang itu kami mantapkan hati untuk kesana. Kami berencana ingin memasuki area taman Shinjuku Gyoen National Garden, tapi setelah sampai di gerbangnya kami urung masuk karena ternyata masuk ke area sana harus membayar dan saat itu ramai sekali orang-orang di taman itu. Kami malas dengan keramaian, memanglah kami ini palancong pemalas, jadi kami putuskan untuk tidak jadi masuk kesana. Kalau dipikir-pikir memang Jepang itu ramai sekali dimana-mana, ga di Osaka, ga di Kyoto, ga di Shikarawago, semua ramai. We don't like a crowded place at all, bikin sesak, hard to enjoy the sight.

Alley didekat Shinjuku Stasiun.

Kami lalu memutuskan untuk berjalan-jalan saja ke area Shinjuku, kami berjalan kesana-kemari tanpa tujuan dan asal mampir ke castle-castle yang kami lewati. Berjalan ke arah chōme Shinjuku, berputar-mutar disana lalu jalan jauuuh ke toko semacam Daiso yang jauh disana dan kembali ke stasiun dengan tangan hampa. Kami lalu jalan lagi ke arah Hanazono-jinja Shrine dan hanya lewat saja tanpa foto-foto karena selain lelah kami juga tidak tau disana mau ngapain haha. Jalan lagi menyebrang perempatannya sampai kami melihat ada mobil/taxi yang habis tersalip oleh mobil lain disana. Tapi ga seru sih, karena ga kayak di Indonesia sampai di rubung dan adu jotos gitu, disana mah kesrempet gitu cuma foto mobil sama teriak-teriak bentar selesai, sama kayak pas saya di Belanda tahun 2018 lalu, ga ada yang kepoin, huh ga seru.

Hanazono-jinja Shrine

Kami juga papasan dengan stasiun televisi bersama artis jepang yang lagi shooting entah apa disana, tapi karena kami cuek ya kami pura-pura bodo amat aja. Padahal dalam hati pengen dada-dada ke kamera sambil teriak "Bu aku masuk tipi Jepang bu," LOL. Kami masih saja jalan terus ke arah Shinjuku Golden Gai yang entah mengapa lebih gampang di temukan lewat layar HP daripada lewat layar mata alias Live. Muter-muter padahal udah ngikutin maps ya tetep nyasar mulu, sampai akhirnyaaa, ketemulah dia dari jalur belakang gedung game-game dengan mbak-mbak memakai kostum manga.

Ternyata ya, ternyata, lokasi si Shinjuku Golden Gai ini ada di belakang Hanazono-jinja Shrine yang kita lewati tanpa foto-foto karena malas tadi. Salah kita cuma karena belok ke kiri padahal harusnya lurus aja dari Shrine itu. Makkk. Tapi ya sudah, kami akhirnya menemukan jalan belakang dari SGG ini dan dengan santainya menikmati suasana alley di sore hari yang masih sepi. Eh ga sore juga sih, orang masih jam 3-an, cuma karena jam 4 Jepang sudah gelap gulita jadi bagi kami yang tidak terbiasa ini menganggap itu sudah sore.

Alley ini sangat fotogenic ya, sangat asyik buat foto-foto ataupun bikin video musik. Haha. Beneran sebagus itu sampai saya dan teman salah mencet kamera aja jadinya autentik banget. Sekedar informasi, alley ini itu adalah tempat bar-bar kumpul ya, jadi kayak tempat nongkrongnya orang sana sehabis pulang kerja lalu minum gitu. Lucunya, dari jalur belakang tadi itu jalur hijau yang orang-orang tidak diperbolehkan merokok disana. Imut banget jalurnya hijau nyelempit diantara gedung tinggi dan bar-bar kecil disana. Saat asyik-asyiknya menikmati suasana disana, kami tiba-tiba papasan lagi dengan stasiun televisi yang lagi shooting tadi, kayaknya sudah pasti deh saya sama teman saya masuk ke tv jepang pas rekamannya tayang di tv jepang. Ya entah punggung kami doang atau gimana udah pasti sih ke-shoot LOL. Tapi kami tetap kekeuh dengan pendirian kami untuk stay cool kok, pura-pura ga peduli. Keren kan.

Jadi Devi memfoto saya yang sedang memfoto kami berdua
Maap jangan ketawa, ini yang di foto si Devi, hahaha.

Pemilik bar sedang bersiap-siap membuka barnya.

Shinjuku Golden Gai, alley yang imut dan bagus buat berfoto.
Nampang lagi.

Selesai dari Shinjuku Golden Gai ini kami lanjut ke Stasiun Tokyo, niatnya sih simple,

"Dev, kita udah ke Tokyo tapi sekalipun belum liat Stasiun Tokyo kayak apa. Kesana yuk mampir bentar sekalian bandingin sama Osaka Kyoto stasiun bagusan mana," 

enggak enggak, tapi ya benar juga ding. Selain salah satu alasannya itu, alasan lainnya adalah saya nemu tukang potong rambut yang murah disana. Tapi sebelum sampai di tukang potong rambut, saya sama teman tergoda oleh harumnya Bake Cheese Tart yang membuat kaki kami berbelok otomatis tanpa kita sadari. Namun karena harganya yang lumayan mahal kami cuma beli 1 doang yang niatnya kami bagi berdua, tapi entah mengapa teman akhirnya merelakan Cheese Tart itu untuk saya makan sendiri, mungkinkah dia teramat kasian sama saya? Silahkan jawab di komen, LOL.

Devi yang tengah sibuk membalas chat rekan kerjanya tengah bersandar karena kelelahan. haha

Sekali-kali foto diri sendiri lewat pantulan kaca kereta, saya duduk disitu karena sepi ya saat itu.

Cheese Tart

Bake Cheese Tart enaknya itu ga main-main, enakkkkk banget sampai saya pengen balik lagi kesana buat beli. Kulit luarnya keras tapi lembut, nah loh gimana itu, cheesenya lumer dimulut, dan kombinasi keduanya itu bikin lidah saya tak berdaya menahan nikmat rasa yang tercampur disana. Sumpah kalau saya balik ke Jepang saya bakal beli ini lagi yang banyak! 

Kami mampir ke toilet di stasiun ini namun keluar lagi karena penuh dan antri panjang sekali. Teman lalu mencari toilet sendiri sedangkan saya masuk ke barbershop untuk potong rambut disini. Saat itu saya benar-benar ingin memotong rambut di luar negeri gitu, setelah cari info sana-sini terpilihlah QB House ini karena harganya yang sangat murah dibanding yang lainnya. Saat masuk kita ambil antrian dengan membayar service-nya terlebih dahulu yang dipatok hanya +-1000 Yen. Setelah membayar via mesinnya dan mendapat nomor antrian kami lalu menunggu sampai nomor kami dipanggil. Nah saat antrian saya dipanggil service mereka bagus sekali, pertama-tama barang saya diambil oleh mereka dan diletakkan ke lemari disebelah kaca di area saya duduk. Saat dudukpun mereka mempersilahkan kita dengan mengarahkan kursi ke arah kita lalu diputarkan ke arah cermin.

Lobby dan mesin pembayaran barbershop.

Ruang pemotongan rambut.

Namun, karena mereka hanya bisa berbahasa Jepang jadi kami sangat sulit untuk berkomunikasi dan berujung mereka menyerah untuk melanjutkan jasanya ke saya. Saya lalu dipaksa (dengan halus) untuk keluar dari tempat saya duduk itu dengan cara mereka memutar kursi saya dan mempersilahkan turun, lalu mengambilkan barang saya dari lemari dan menyerahkan ke saya. Juga mereka mengembalikan uang saya dengan uang cash. Saya amat kecewa sekaligus malu karena ya bagaimana ga malu dengan kondisi kayak gitu. Tapi saya stay cool saja tetap duduk disana sambil menghubungi teman saya yang entah ada dimana. Dan lagi saya tidak ada kuota internet jadi susah menghubungi teman.

Stasiun Tokyo di malam hari dari jauh.

Depan Stasiun Tokyo yang malam itu gelap meski lampu disana-sini menyala karena sebentar lagi Natal tiba.
Lampu-lampu yang menghiasi pohon natal di depan Stasiun Tokyo, alasan pertama saya ingin kembali traveling disaat natal karena ingin melihat meriahnya Natal di negara lain.

Lalu saya keluar sambil masuk ke toko di area stasiun sambil mencari sinyal wifi, setelah mendapat sinyal wifi akhirnya saya janjian ketemu teman di depan stasiun. Kami sempat foto-foto didepan stasiun, namun karena gelap gulita jadi ya tidak terlalu niat lah kami. Kamipun lalu masuk ke stasiun dan pergi lagi ke arah Ginza untuk membeli Kue atau cokelat gitu titipan rekan kerjanya temen. Kita berdua ga mau rugi juga akhirnya ikut beli, ya kali kan kita udah capek-capek dan jauh-jauh kesana cuma beli untuk orang lain doang haha. Mall yang kami tuju namanya Matsuya Ginza dan toko kue cokelat itu namanya Gateau Festa Harada. Sumpah kalau dipikir-pikir suasana di Ginza itu classy banget, mewah, brand-brand mahal ada di mall-mall disini, sampai kami merasa sangat kecil disana. Mall-mall disana pun terlihat elegan sekali, sparkling disana-sini, terasa sekali suasana mahalnya.

Gateau Festa Harada, mahal lumayan enak (lumayan doang, ga bakal beli lagi), oleh-oleh mahal yang pernah kami beli hehe.

Selesai mengurus free tax duty di mall itu, kami langsung pulang dan memutukan mencari makan di dekat hostel kami saja, dan yak benar, kami membeli Tempura lagi haha. Saat perjalanan ke area hostel ini kami melewati exit stasiun asakusa yang baru kali itu kami lewati dan terasa seram dan menakutkan. Entah mengapa feeling saya ga enak banget disana dan saya percepat saja langkah saya untuk keluar dari sana. 

Sebelum sampai ke restoran, kami juga mampir dulu ke Matsumoto untuk membeli titipan obat jerawat dan beberapa koyok kaki dan mata untuk dibawa ke Indonesia. Lalu lanjut ke Restoran yang kami tuju malam itu, namanya ga tau ya karena pake bahasa jepang, tapi bisa di cek disini. Saat itu kami duduk di mini bar-nya sebelahan sama 1 turis pria yang kalau tidak salah dengar berasal dari entah Switzerland atau New Zealand, lol, kuping saya paling grecep nangkep LAND-nya doang, LOL. Denger-denger dia baru tiba di Tokyo seteleh 2 minggu di Hokaido, dia kesepian keknya sampai ngajak ngobrol Chefnya, padahal aku siap lho dengerin cerita dia, sayang dia ga ngajak aku ngobrol.

Exit Stasiun Asakusa yang beda dari exit-exit lainnya, agak kumuh dan menakutkan.
Meja mini bar tempat kami makan tempura malam itu.

Nah lucunya, saat itu kami disajikan botol air minum ala Ikea sama gelas kosong kan, nah karena kami ga bisa bukanya, sampe akhirnya si Chef dateng mengulurkan tangan membantu kami. Sumpah tengsin banget tapi ya wes lah ya, everyone has their first time of everything. LOL. Beberapa waktu kemudian disajikanlah menu yang kita pesan, overall rasanya lumayan dibandingkan Tempura yang kami makan tadi siang, tapi tetap kalah enak dibanding Tempura malam kemarin. Denger juga si turis sebelah bilang kalau itu Tempura terenak yang pernah dia makan. Dalam hati pengen banget nyaut ngasih tau tempat Tempura di Shinjuku yang tak tertandingi itu, tapi ya mana berani.

Selesai makan kami langsung belok ke kiri menuju hostel kami yang jaraknya cuma selemparan sendal dari Restoran Tempura itu, tak lupa kami cuci kaki dan wajah kami untuk bersiap tidur dan menikmati malam terakhir di Jepang dengan beristirahat yang cukup. Tak lupa juga menempelkan koyok kaki di kanan kiri dan telapak agar kaki bisa diajak kerjasama untuk perjalanan pulang yang panjang esok harinya. Ya, malam terakhir kami akhirnya datang dan kami harus bersiap untuk pulang.

Tokyo Tower dari atap hostel di malam hari.

Jejak 20191130.

umiatikah

You Might Also Like

0 Comments

Bookshelf: Favorite

The Notebook
A Woman Is No Man
A Copy of My Mind
Ayah
Gadis Kretek
Inteligensi Embun Pagi
Gelombang
Amba: Sebuah Novel
Supernova: Akar
Supernova: Petir
Partikel
Cantik itu Luka
Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Ronggeng Dukuh Paruk
Pulang
Bumi Manusia

Quotes

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Goodreads

2020 Reading Challenge

2020 Reading Challenge
Umi has read 3 books toward her goal of 12 books.
hide